Resah [3]: Sholawat
Sebenarnya, ini tulisan untuk catatan akhir tahun saya yang morat-marit dan pontang-panting ke sana kemari dengan keresahan demi keresahan datang silih berganti. Tak bisa saya bawa serta ke dalam berbagai forum meski sekadar blogging apalagi berrbagi dalam kopi darat.
Alhasil, selama beberapa bulan ini saya lebih suka mengurung diri dalam awang-awang pikiran saya sendiri. Bergumul dengan gelisah yang sama dari hari ke hari. Merenung berapa dosa dan kesalahan yang telah saya perbuat.
Tak ada klarifikasi apalagi resolusi.
Selamat Hari Ibu

Selamat hari Ibu
Tiada kata yang pantas terucap selain “Sanjungan” dan “Terima kasih” serta “Permohonan Maaf”
Maafkan aku ibu, yang selalu melukaimu
Maafkan aku ibu, yang selalu membuatmu menangis pilu
Maafkan kesalahanku
—–ooOoo—–
Ibu, satu kata yang selalu menuai banyak decak kagum dan rasa cinta. Bahkan tak cukup kata untuk menuliskan betapa besar dan agung sosoknya.
Mudah-mudahan tak terhenti pada kata-kata sederhana ini aku mengagungkanmu, juga tak terhenti pada seremonial peringatan hari ibu.
Karena bagiku, setiap hari adalah milikmu,
hanya saja
setiap hari pula aku melupakanmu.
Maafkan khilafku.
—–ooOoo—–
Terima kasih untuk pemberi banner, Linda, murid saya yang kebetulan maau menyumbangkan bannernya untuk sekolah tercinta SMAN 11 Surabaya
Resah [2]
Kukatakan padanya tentang eksistensi
“Bahwa engkau hanya cahaya lilin yang lebur dalam cahaya matahari di atas ubun-ubun”
maka seraplah sifat-sifat-Nya agar engkau bisa mendekati cahaya di atas cahaya
kalau tidak,
maka engkau tak lebih dari seonggok sampah di atas serakan sampah peradaban langit
dan aku [yang mengaku-ngaku] termenung dalam renung
Resah [1]
menjadilah gila saat kegilaan tak terterima…
menjadilah sadar saat semua sedang dilanda ekstase…
menjadilah tidur saat semua terjaga…..
menjadilah apa saja yang serba terbalik dari ke-umum-an agar terjadi keseimbangan, koreksi, perbaikan atau apa pun untuk melanggengkan kebaikan dan kebenaran
Jangan tanya kenapa tulisan ini bisa keluar dari kepala saya?
Happy Birthday My Love [2]: Part 2 dan [3]
Postingan asal-asalan dari capeknya hati dan pikiran yang meluap amarah tapi sungguh tertahan, di sisi lain dikejar-kejar rasa bersalah pada orang-orang tercinta di sekeliling saya.
Happy Birthday My Love [2]: Part 2
Adalah even ulang tahun komunitasku yang sangat kubanggakan, TPC. Prosesi hari kedua tanggal 10 Nopember itu diwarnai dengan sukacita yang bernuansa sederhana. Saya bertemu dengan beberapa kawan yang lama ndak keliatan seperti mas Jiewa, Mas Gandhi, Mas Niko, Mas Sagung dan kawan-kawan lainnya.
Acara yang berlangsung di sebuah rumah makan ini meninggalkan kesan berharga bagi saya, istri dan anak saya yang sengaja saya ajak hadir mengikuti acara. Momen ini sebenarnya saya anggap sebagai perayaan ulang tahun TPC, ultah anak saya sekaligus juga syukuran kemenangan SMAN 11 Surabaya beberapa waktu sebelumnya.
Meski banyak disibukkan dengan mengurus anak saya yang banyak permintaannya, naik turun tangga, minta makan tapi ndak dimakan, minta minum tapi cuman seteguk. Ah, dasar anak saya memang begitu. Saya sangat berbangga dan bersyukur dianugerahi Allah SWT. dapat bersama dengannya. [Mohon maaf, tulisan tentang TPC terbatas]
















