Sajak dan Narasi Cinta Sang Pengembara
Kutahu sajak dan narasi cinta Sang Pengembara ini tak akan membuatmu luluh, kau tahu aku tak akan bisa di sisimu sesuai maumu.
Perempuanku,
Kunyatakan cintaku dalam bisu
Pada binatang malam
Pada desah angin di dedaunan
Pada mantra tanpa suara
Pada malam perangkum gelisah
Perempuanku,
Senandung asmara kutitipkan
Pada sayatan biola
Pada orkestra cinta
Berirama nestapa
Perempuanku,
Maafkanku jika aku renggut ruh cintamu dalam pengembaraanku
Melesat ke mega-mega
Berlari dan menari di atas awan putih
Bercanda bersama malaikat dan bidadari
Dan lelah, tersungkur dalam sujud di depan singgasana cinta-Nya
Perempuanku, pengembaraanku belum juga akan berujung. Jikalaupun menjelang sudah, mungkin aku sudah udzur. Kau akan menjumpaiku dalam kerentaan usia yang tak lagi mempesonakanmu.
Perempuanku, aku akan datang dan singgah lalu akan pergi lagi. Entah berapa jarak sudah kutempuh. Entah berapa lama sudah waktu yang sudah kuhabiskan. Aku tak pernah menghitungnya, juga tak ada alasan untuk itu.
Perempuanku, aku pengembara pengelana ruang dan waktu yang tak lagi terikat pada semu. Aku habiskan hidupku untuk mencari dan mencari. Meski kutemui beberapa hal yang memberiku alasan untuk tinggal, tapi tak memuaskan hasrat pencarianku.
Perempuanku, maafkan egoisku padamu yang tak mampu memuaskan dahaga cintamu. Aku akan terus berkelana mencari dan mencari. Membawa serta ruh cintamu, akan kusemayamkan dia di tempat semestinya.
Perempuanku, maafkan aku, aku pengembara yang rindu penasaran pada cinta-Nya.
Category: Budaya








