Posts belonging to Category 'Women'

Untuk Sang Kenangan [4]

Menyongsong Kemarau

Dinginnya kemarau di malam yang kering semakin menyiksaku dalam bayanganmu. Engkau masih dalam kebekuan, sebeku pertemuan terakhir di awal penghujan enam musim lalu.

Percintaan kita enam musim lalu seolah menjadi bias pelangi. Keputusanmu juga aku mengakhiri semua adalah kemarau terpanjang sepanjang musim dalam dua dasawarsa hidupku. Mungkin juga hidupmu.

Kau begitu indah dari semua kenangan yang tercipta. Kau memesona dalam duka dan tawa. Ah… Aku terlalu memujamu? Bias ilusi darimu yang tak pernah mengecewakanku? Sungguh, meraihmu dan mendampingimu membuatku menjadi laki-laki sejati. Aku dalam bayang-bayang pesona luar biasa hingga aku tak sadar bahwa engkau memang bukan untukku. Aku pungguk engkau bulan.

Kekasih, -ah, aku malu, merasa tak pantas!- jika saja kau masih mengijinkannya aku panggil kau begitu. Sejujurnya, aku sudah muak dengan kenangan-kenangan menjerat ini. Muak pada diriku sendiri yang selalu memujamu setiap ingatan itu kembali. Muak pada pecundang, pada wajah yang muncul setiap aku menatap cermin.

Kemarau ini menyengatku! Seperti halnya kemarau enam musim lalu, aku terseok dalam pusaran badai padang pasir. Kau adalah dahaga tak terpuaskan. Menyengat.

Kemarauuuuuuu… Aku songsong engkau sebagaimana enam musim lalu. Dan, selalu kuulang tiap musim, Aku Pecundang!

Kusongsong engkau dahagaku!


Disclaimer: Tulisan ini kelanjutan dari Untuk sang kenangan [bag.1], [bag.2] dan [bag.3]. Kebetulan tertulis pada saat menikmati tontonan menegangkan Spanyol-Jerman


Berkabung + Kangen: Irrasional Desire

I have been blind, unwilling to see
The true love you’re giving.
I have ignored every blessing.
I’m on my knees confessing

That I feel myself surrender
Each time I see your face.
I am staggered by your beauty,
Your unassuming grace.
And I feel my heart is turning,
Falling into place.
I can’t hide
Now hear my confession.

I have been wrong about you.
Thought I was strong without you.
For so long nothing could move me.
For so long nothing could change me.
Now I feel myself surrender
Each time I see your face.
I am captured by your beauty,
Your unassuming grace.
And I feel my heart is turning,
Falling into place.
I can’t hide
Now hear my confession.

(more…)

Berkabung

Sore ini aku berkabung untukmu saudaraku, perempuan dalam berita sore yang mati kelaparan di belahan terpencil makasar.

Saudaraku, entah apa yang menimpamu hingga kau tak makan tiga hari di tengah kehamilanmu yang menua. Sementara bayi kecilmu lainnya sekarat. Kata medis kalian menderita gizi buruk, tapi aku katakan kalian kelaparan!

Saudaraku, aku minta maaf jika diamku, keacuhanku, ketakmautahuanku, ketakpedulianku membuatmu terkulai lemas menyongsong ajal.

Saudaraku, sungguh, kematianmu yang mengenaskan, menjadikanku muak tak terkatakan pada mereka yang seharusnya mampu menyelamatkanmu dari lilitan lapar. Amarah dan kebencianku memuncak sampai di ubun-ubun pada mereka yang seharusnya berkewajiban membuatmu kenyang namun justru menimbunnya untuk perut mereka yang sejatinya tak akan pernah terhenti sampai jutaan perempuan dan bayi seperti kalian terkulai lemas tanpa tenaga dan akhirnya tanpa nafas.

Saudaraku, derai air mataku di sajadah yang basah di penghujung senja, tak akan pernah mampu menggagalkan maut yang telah menjemputmu. Aku sadar saudaraku, tangisku hanya sesaat yang setelah itu berganti gelak tawa dan canda dan kembali dalam keacuhan.

Saudaraku, maafkan aku, hanya untai kata yang bisa kutuliskan. Juga sebaris doa agar engkau menjadi syahidah.

Kuharap, Umar bin Khaththab mendatangimu di alam sana, memanggul sekarung beras dan mengetuk pintumu, mengenyangkan kelaparanmu.

–ooOoo–

Dan…

Biarkan sejenak aku tenggelam dalam duka…

Menggunungkan kebencian dan amarah…

Pada penguasa durjana yang tak mau mengenyangkan perut rakyatnya…

–ooOoo–

Reporter Berjilbab Mulai diterima?

Gita Namuri ArifLama, postingan ini berharap nongkrong di blog, tapi apa daya beberapa agenda yang tak ingin kehilangan momentum mendahului kemunculannya. Tak bermaksud menafikan teman bloger non muslim, postingan ini lebih sekadar refleksi pertanyaan di atas kepala saya. Benarkah media televisi “ikhlas” menerima kehadiran reporter berjilbab?

Sependek pengetahuan saya, belum ada media televisi selain trans tv yang mengijinkan reportasenya diisi jilbaber, atau, memang tak ada jilbaber berminat menjadi repoter? Masih terbatasi pengetahuan saya, sepertinya teori komunikasi massa tak mengijinkan jilbaber menjadi reporter resmi? Kurang prestise? Maaf, jika pertanyaan saya dianggap berprasangka buruk.

Isu jilbab yang digulirkan di awal 90-an menemukan momentum puncaknya di pertengahan 90-an. Tak kurang dari peran besar Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab sebagai motor budaya yang juga didukung demonstrasi ke jalan para jilbaber menjadikan massa mulai melirik jilbab bukan sebagai barang yang menakutkan.

(more…)