Finally, I Have a Choice: Still About Election
For long time i’ve confused by this thing, its called Election. But now, I must take my position. At least, I’m quit to talk about this.
A friend tell me, he said: “lets talk real world, man! This is a part of our life in Indonesia, one of development countries in the world with the biggest voter in election which is a part of a thing called domocracy. And we don’t know how far this going?”
“I’m hearing your opinion” I said to him. I don’t said anything just listening his voices to give a chance. I do not need to answer or diasgree with his opinion. Yet, I have a blog to express my thoughts. Do not need any objection or rejection.
Ok, finally I have one decision for this time. I don’t know about tomorrow. I’ll quit to write critics or bad respond for the election. Moreover, I’m tired about my thoughts, my life and of course my wallet.
–oO( OOOO )Oo–
Baiklah, saya berhenti berkata-kata. Bukan hanya karena saya mendapat teguran halus dari kawan saya. Akan tetapi, juga karena banyak hal yang menyelimuti diri saya yang tak terungkap ke permukaan. Publik tahu dan sadar bahwa keburukan yang terjadi pada diri saya tidak perlu sayaa ungkapkan karena itu akan menghancurkan krediblitas saya nantinya. Terlebih kalau saya berniat mencalonkan diri menjadi calon legistlatif untuk pemilu 2014.
Jadi, apa yang menimpa diri saya saat ini yang bersifat negatif tak perlu diketahui publik. Biar menjadi rahasia dapur saya dan keluarga saya.
Anda tak perlu tahu bahwa saya sedang tidak punya uang cukup untuk menyejahterakan keluarga saya dengan lebih baik.
Anda tak perlu tahu kalau untuk koneksi internet yang saya gunakan untukk nge-blog ini bukan milik saya, melainkan pinjaman dari adik saya.
Anda tak perlu tahu kalau sebagai guru saat ini saya sedang mengalami krisis luar biasa. Krisis keyakinan, krisis ideologi, krisis kepercayaan yang mengakibatkan saya turun stamina [baca: malas] mengajar. Padahal anda semua tahu saya makan dari gaji. Apa artinya itu? Artinya saya makan gaji buta.
Anda tak perlu tahu bahwa di balik tampilan perlente saya terbangun dari hutang demi hutang yang menumpuk dan saya bingung setiap hari bagaimana menutup semua lobang-lobang itu.
Anda tak perlu tahu bahwa sampai sekarang saya masih belum punya rumah dan belum menjadi keluarga ideal dengan rumah sederhana impian banyak istri dan wanita. Tinggal dengan kebahagiaan tanpa diganggu orang tua ataupun mertua.
Karena saya yakin, Anda yang duduk di kursi parlemen tahu betul itu tanpa harus mengkalkulasi satu persatu. Toh, Anda semua sudah menjadikan keluhan-keluhan saya dan berjuta ’saya’ lainnya dalam janji-janji kampanye dan menjadi program partai anda.
Karena saya yakin, Anda yang akan duduk di parlemen tahu betul bagaimana mengkalkulasi kebutuhan ’saya’ dan bagaimana mencukupinya karena itu memang tugas Anda.
Dan karena saya yakin, Anda sudah paham betul semua apa yang nanti bakal Anda laksanakan, maka dengan kesadaran, saya berhenti mengeluh, menghujat, mencibir dan berlaku sinis pada Anda.
Saya akan pilih Anda dan lantas duduk diam menunggu janji kesejahteraan dan kemakmuran sebagaimana Anda mendatangi saya di jalanan, di ruangan terbuka, ruangan tertutup bahkan hingga ke kamar saya.
Saya akan diam menunggu.
March 27, 2009 | Posted by gempur 

Categories:






lah kok malah menunggu??? kenapa sampean jadi skeptis gitu pak?? bukannya calon2 pemimpin kita itu adalah yang terbaik diantara kita. sebab kalo tidak seharusnya mereka malu memajang gambar muka mereka di ruang publik. orang bodo akan malu memamerkan kebodoan mereka. sebaliknya tidak ada orang hebat yang merasa dirinya hebat. ….
atau jangan2 saya sedang membicarakan pemimpin yang bukan pemimpin kita yah??? ah entahlah …
Entah Mengapa aq tak Berdaya………….
Kalau sudah duduk di Parlemen jangan lupa sama obralan janjinya !!!
kasihan om Gempur tuh
Bener sekali Mas…
Kejenuhan bisa datang kapan saja, pada siapa saja.
Saya lebih dari itu.
Seperempat abad mulang, rasane wis jenuh pol2an.
Ngeblog merupakan pelarian kejenuhan.
Tiap awal taun entuk setoran murid, lalu musti kita ajari dengan materi yg itu2 saja.
Saya mulang Matematika, tapi karena suka komputer, jadilah saya malah nulis buku TIK.
Ngarang Buku Matematika gak laku…
Tapi dinikmati sajalah, kita sudah memilih.
Kalau kita bisa mencari, banyak juga kenikmatan tersembunyi dibalik profesi guru.
Selamat Berjuang, tetep semangat!