Hari Pendidikan dan Refleksi UAN 2008
Kembali saya dihadapkan pada tiang yang menyangga bendera lusuh itu tetap berkibar. Selusuh itukah pendidikan Indonesia? Jawabnya beragam. Peringatan hari pendidikan terlalui begitu sangat biasa dan memang kering makna. Tayangan televisi sekali lagi menyuguhkan satire, di mana tawuran antar pelajar terjadi sesaat setelah mengikuti peringatan hari pendidikan nasional di Ambon. Satu contoh kecil dari sekian kegagalan pendidikan dalam mencetak generasi penerus bangsa.
Melanjutkan kisah memilukan tahun sebelumnya yang juga tak kunjung jelas penyelesaiaannya, UAN 2008 masih diwarnai praktik kecurangan di berbagai lapisan. Melanjutkan tulisan terkait tentang pendidikan memprihatinkan dan UAN sebelumnya, bahwa apa yang dikhawatirkan menimpa UAN 2008 ternyata benar-benar terjadi di lapangan. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, penyimpangan terjadi tak hanya di level siswa, di level pengawas pun terjadi penyimpangan.
Menghalalkan Segala Cara
Ujian Nasional dengan sendirinya telah menjelma menjadi bencana nasional yang mendorong mereka-mereka yang terlibat di dalamnya maupun yang terimbas karenanya berbondong-bondong melakukan tindakan positif dan negatif secara massal berjamaah dalam skala besar.
Siswa, adalah obyek paling tertindas dalam urusan yang satu ini. Momok bernama “tidak lulus” menjadikan mereka menempuh segala cara dan upaya agar lulus. Tindakan terpuji yang mereka lakukan di antaranya mengikuti bimbingan belajar, menambah jam belajar, mendekatkan diri pada Tuhan sesuai agama masing-masing.
Fenomena yang menonjol di Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya, istighosah yang menjadi ciri khas organisasi sosial keagamaan NU mulai digemari oleh para pendidik dengan menyelengarakannya di sekolah agar peserta didiknya berhasil seratus persen lulus ujian nasional. Upaya ini sangat baik meski sifatnya temporer dan cenderung pragmatis.
Hanya saja, siswa terlampau dicekam ketakutan, upaya positif yang mereka lakukan tak menjadikan mereka percaya diri dan mandiri dalam mengerjakan soal ujian nasional. Beredarnya jawaban ujian nasional via sms pada malam hingga pagi harinya menjadikan mereka berpikir seribu kali untuk tidak menjadikannya referensi. Alhasil, selain dikerjakan sendiri, mereka tetap memakai jawaban tersebut sebagai referensi. Apalagi sms yang beredar tersebut didapat dengan gratis dan tak perlu membayar.
Sementara, siswa yang memang pasrah dan menyerah sejak awal, memiliki kecenderungan mencari kunci soal dan menggantungkan sepenuhnya pada kunci tersebut dan tentunya dibantu kawan sekelilingnya.
Institusi Pendidikan yang Tak Mendidik…?
Semudah itukah proses kecurangan terjadi? Jawabnya ya. Ternyata, ketakutan tak hanya menyergap siswa, tapi juga para guru dan penyelenggara pendidikan. Para pendidik yang kebetulan bertugas sebagai pengawas, tampaknya memberi andil yang besar bagi terjadinya praktik kecurangan massal tersebut. Para pengawas seperti sadar dengan sesadar-sadarnya akan kesulitan yang menimpa siswa mereka. Dalam alam bawah sadar, mereka akan memilih sikap diam dan membiarkan peserta ujian nasional melakukan praktik kecurangan demi satu kata: LULUS.
Parah lagi, bagi mereka yang siswanya jauh dari jangkauan teknologi, para pendidik rela mengubah lembar jawab ujian nasional peserta didiknya agar lulus. Seperti yang diberitakan media tentang sejumlah guru yang melakukan pengubahan lembar ujian nasional anak didiknya beberapa waktu lalu.
Upaya ini disadari atau tidak, adalah upaya yang salah di mata hukum. Meski niat mereka baik, hanya ingin menolong. Pengalaman pribadi penulis tak jauh dari realitas di atas. Cenderung diam dan membiarkan. Bukannya ikut-ikutan melestarikan kecurangan, tapi keadaan memaksa demikian. Salah satu peserta sempat melontarkan kalimat: “halah pak! ini bisa lulus aja alhamdulillah, la wong lulus belum tentu langsung dapat kerja!”.
Kalimat yang mencengangkan dari peserta UAN yang memang dari kalangan ekonomi bawah. Sempat terpana untuk sesaat, mendengar kalimat tersebut meluncur dari siswa berpenampilan sederhana, dengan sepatu butut yang mungkin tak dicuci selama sebulan lebih berbekal satu pensil dan penghapus yang hanya setengah.
Konklusi
Tampaknya, mengejar ketertinggalan dari negara tetangga di bidang pendidikan tak bisa diletakkan pada ujian nasional, terlebih bila ujian nasional dianggap sebagai upaya menaikkan standar pendidikan. Maka, langkah ke depan, jangan jadikan ujian nasional sebagai standar kelulusan apalagi meningkatkan mutu. Kembalikan hak sekolah untuk menentukan kelulusan siswa-siswinya. Pemerintah melalui departemen pendidikan nasional sebaiknya berkonsentrasi membenahi infrastruktur pendidikan dan peningkatan SDM guru untuk lebih mengoptilmalkan kinerja yang nantinya lebih memiliki nilai lebih dalam peningkatan mutu pendidikan.
Terakhir, jangan jadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pengembang dan pelestari kecurangan. Sangat naif bila institusi pendidikan yang merupakan ladang penanam dan penyemai nilai-nilai moral kebaikan justru melanggengkan melestarikan kecurangan.
Wallahu A’lam
Artikel Terbanyak
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.
Comments
bukti dan fakta sudah banyak terungkap, tapi pelaku kecurangan UN tetap saja terjadi setiap tahun dan tak tersetuh oleh hukum. inilah yang menjadi biang kerok ujian nasional memiliki citra yang tidak bagus. selain itu, sebenarnya ujian jangan hanya dijadikan penentu kelulusan, tapi sebagai alat pemetaan mutu pendidikan. karena jadi penentu, mau atau tidak, banyak kalangan yang tega melakukan kecurangan2 itu.
sawali tuhusetya’s last blog post..Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang “Sakit”?
ini karna selama ini pendidikan kita mengarah ke angka2 saja. bukan ilmu yg akan diraih…. wkwkwkwk… ga kaya pak gempur ak yakin deh….
Anang’s last blog post..Hardiknas
pelemparan tanggung jawab pendidikan itu kan dimulai dari keluarga yang melempar tanggung jawab ke sekolah, kemudian sekolah melempar tanggung jawab ke lembaga bimbingan belajar..
tanya kenapa?!
@sawali: unas gagal menjadi alat ukur pemetaan mutu pak, lha wong pengawas saja ada yang ikut menyebarkan jawaban kok…
serba repot! ![]()
kecurangan itu terjadi mungkin karena pendidikan di indonesia yg dikarena berorientasi kpada nilai.
hanggadamai’s last blog post..Apalah Artinya Usahaku Selama Ini?
pendidikan juga tidak melibatkan semua pihak, apalagi orang-orang miskin kini banyak yg putus sekolah, atau cuma sebatas tamat smp saja..
ridu’s last blog post..Intercultural Dialogue Part II
ketika angka menjadi berhala
itu bahaya
ketika ujian menjadi satu faktor penentu
itu biadab
ah sudahlah
mending nyanyi
kangguru’s last blog post..Harapan di hardik(nas)
UAN Adalah Segalanya …
Halalkan segala cara untuk UAN …
–Sepakat–
* bayangin aja kita susah payah, penuh perjuangan waktu dan biaya untuk bisa menempuh pendidikan (sekolah) dalam waktu yang lumayan lama (3 tahun), tolok ukur kelulusan hanya pada nilai UAN yang hanya diselenggarakan dalam 3 hari.
UAN hanya menciptakan generasi instan, luluse cuma dipatok nilai 3 pelajaran ![]()
ghatel’s last blog post..Buruh dan May day
bagi pemerintah, UAN hanya proyek belaka..
Anas’s last blog post..HarDikNas ~ Hari Pendidikan Nasional
klo sektor pendidikan matang, aku yakin kemiskinan, kelaparan akan berkurang
*geleng - geleng kepala*
Okta Sihotang’s last blog post..Ternyata cinta itu indah
setuju ama Arul. Semoga Mas Gempur diangkat jadi Mendiknas. *mengamini sekuatttt tenaga
la mendol’s last blog post..Soto Madura “Saesto…Nyamanna”
tiga tahun sekolah cm ditentukan tiga hari???
mending langsung ikut bimbel menjelang ujian ![]()
eNPe’s last blog post..eNPe bertugas di SMA Negeri 2 Pontianak
Wah..Njenengan kok pemikirannya ndak jauh beda dari “anak”mu ini yaw pak?
Xixixi..
Yap
di Blog saia juga terekam kutukan-kutukan serta segala macam hujatan akan “event” berskala nasional yang akhir-akhir ini disebut sebagai “Ujian Nasional”..Sebutannya gwanti-ganti,entah supaya keren ato gimana,yang pasti ada yang bilang dulu ebtanas lah, Uan, macem-macem,tapi pada dasarnya tetep..MEMPERSULIT SISWA!
Lha piye?
Blajar susah payah..
Giliran melu UNAS,nerveous, lali rumus kwabeh..
Alhasil..
Gak Lulus..
Walah..Padahal yo sakjane pinter,tapi APES!?
Pripun kalo begini?
Apakah yang pinter selalu lulus?
Apakah yang lulus selalu pinter?
Waallahu ‘alam ![]()
Shei’s last blog post..Serba-Serbi Unas
Sistem yg berlaku dari dulu hingga sekarang memang lebih banyak menyulitkan siswa. Siswa yg belajar lebih banyak stres krn orientasinya hrs lulus, dan bkn u. cari ilmu. Semua stres, semua sama2 sepakat berbuat curang..
Baby Vay’s last blog post..pamer senyum..
jd teringat jaman saya ebtanas dulu…
beredar soal berikut kunci jawabannya…
sungguh parah negara kita
ichaawe’s last blog post..KoLeKsi BotoL PaRfum
Perlu kearifan memaknai fenomena kecurangan dalam dunia pendidikan Indonesia ini. Ada ‘warisan’ kuat dari para sepuh bangsa ini yang tak pernah henti dan malu untuk memperoleh sesuatu dengan cara instan.
Renungan di Hari Pendidikan Nasional ini selayaknya tidak hanya habis pada persoalan hardik menghardik saja, tapi memberi solusi dan pencerahan yang bijaksana.
Tabik!
Zul …’s last blog post..Budaya “Melacur” itu Masih Ada di Sekolah Kita (Surat Terbuka buat Lilies M.S.)
Perlu kerjasama keras dari semua pihak yang peduli pendidikan untuk ‘mengembalikan visi dan misi pendidikan Indonesia ke jalan yang benar!’.
Tabik!
Zul …’s last blog post..Budaya “Melacur” itu Masih Ada di Sekolah Kita (Surat Terbuka buat Lilies M.S.)
disaat kurikulum berbasis kompetensi digalakkan kok kelulusan harus terstandar secara nasional. bukankah kompetensi tiap daerah *juga tiap sekolah* berbeda. ada yang secara akademis bagus namun dilain sekolah olahraganya yang bagus.
kemampuan bekerja sering lebih ditunjang oleh kompetensi tiap orang bukan dari nilai akademisnya.
tomy’s last blog post..REVOLUSI MENTAL BUDAYA DEMI ANAK CUCU
…Momok bernama “tidak lulus” menjadikan mereka menempuh segala cara dan upaya agar lulus. Tindakan terpuji yang mereka lakukan di antaranya mengikuti bimbingan belajar, menambah jam belajar, mendekatkan diri pada Tuhan sesuai agama masing-masing….
Kalau itu sih usaha yang positif, Pak. Nggak masalah. Kalau mereka menghalalkan segara cara dengan yang tidak benar seperti pergi ke dukun, mencari bocoran jawaban, nyontek, dll. itu yang perlu diwaspadai.
Edi Psw’s last blog post..Ujian Nasional SMA Sederajat Tahun 2008
Bupati malang mengancam akan mencopot kepala dinas pendidikan jika terjadi kenaikan angka ketidak lulusan.
bayangkan…..
kepala dinas nanti ngancam siapa?
….
sluman slumun slamet’s last blog post..PNS, Pegawai Negeri malaSSSS?…
Guru curang dikirim densus 88,
pejabat curang dikirim apaan hayo ?
Gimana nasib pendidikan bangsa ini, peradaban apa yang mau diwujudkan ?
Apa hanya akan nongol dan menambah jam tayang seputar “BRUTAL”, dengan pemainnya Bang Napi. Ingat kejahatan …
[…] sarankan si empunya blog untuk lebih beretika dalam berbisnis di dunia maya. Meski ia mencantumkan sumber tulisannya, tapi tetap tidak etis bagi saya. Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites […]















kembali lagi, semuanya terkungkung dalam sebuah sistem yang mengharuskan siswa seperti itu.
semoga pak gempur menjadi mendiknas so bisa merubah sistem itu, hehehe
aRuL’s last blog post..Belajar merokok dari TK