Curhatan Merdeka
Merdekaaaa… Merdekaaa… Merdekaaa….
Dirgahayu Negeriku
Slamat Ulang Tahun Bunda Pertiwiku
Semoga Engkau Lepas dari Keterpurukan Berkepanjangan
Malam ini, malam peringatan kemerdekaan negaraku, bangsaku. Untuk yang ke-63. Ada yang berbeda sungguh sangat berbeda. Aku hanyut ke masa lalu bukan urusan cinta picisan. Tayangan tv malam ini bermakna dalam. Hampir tiga jam [tentu dengan iklan] bersama Iwan Fals dengan lagu cinta, kritik, renungan yang menggugah.
Terus terang, saya bukan falsmania juga bukan fans beratnya yang sepanjang hari memutar lagu-lagunya atau memasang posternya di setiap sudut rumah saya. Iwan dengan lagunya jelas menghipnotis saya, memengaruhi hingga menancapkan ke dalam benak saya apa arti perlawanan dan perjuangan. Ia memang mengisi masa-masa pencarian saya di masa SMP dan SMA yang memang penuh perjuangan berat. Tapi, ia tetaplah iwan yang tak akan saya agungkan, saya dewakan dan saya elu-elukan apalagi histeris ketika menyaksikan konsernya.
Basbang tapi Lumayan
Syukur Alhamdulillah, meski basi banget, akhirnya pekerjaan rumah [PR] saya kelar juga. Menyediakan layanan webmail gratis bagi seluruh warga SMAN 11 Surabaya. Membangun sebuah webmail tidaklah mudah dan murah dengan space hosting sendiri. Terlebih anggota aktif tiap tahun yang dilayani sekitar 1000 kepala, belum termasuk alumni yang jumlahnya ribuan.
Solusi terbaiknya adalah main mata dengan google mail
yang menyediakan layanan gratisnya. tentu tidak dengan ekstensi @gmail.com tapi dengan ekstensi @sma11sby.com. Meski menambah agenda kerja, tapi membahagiakan siswa ternyata lebih mengasyikkan daripada masturbasi sendiri [nge-blog maksudnya
].
Alhasil, animo siswa sangat tinggi untuk memiliki email dengan nama mereka dan nama sekolah mereka. Kata mereka “asyik pak! keren bisa punya email dengan nama sekolah sendiri”. Dalam hati saya bergumam: “Maaf, nak! gurumu ini sungguh katrok dan sekolahmu penuh keterbatasan, jadi ini hanya ini yang mampu diberikan, maaf kalo seadanya dan sederhana terlebih masih nyantol di gmail dan datangnya telat. Sekali lagi maaf!”
NB: hasil akhirnya bisa dilihat di sini, pengumunannya di sini dan di sini.
Discalimer: Postingan jeda akibat capeknya mikir pasca PSB dan aksi akrobat bigbos, sehingga terjadilah webmail ini. Hahahahahahaha.
Masih Tentang PSB Surabaya Online: Koreksi
Agaknya tulisan saya sebelumnya tentang prediksi hasil PSB SMA di Surabaya perlu mendapat koreksi serius. Meningkatnya animo masyarakat untuk mendaftar di SMK ternyata memiliki porsi besar dalam mereduksi angka yang yang saya prediksikan untuk diterima di SMA Negeri Surabaya.
SMK menjadi idola dan favorit baru masyarakat Surabaya
Peminat SMK se-demikian tinggi, terutama jurusan-jurusan yang menjanjikan penghidupan pasca pendidikan menengah. Ada yang menarik ketika membaca fenomena ini [SMK mendapat tempat di hati masyarakat]. Berdasarkan pengamatan yang tak mendalam [setelah mendengar pembicaraan antarpendaftar SMA di sub rayon tempat saya berdiam, juga dari beberapa tetangg dan juga media lokal] setidaknya ada tiga hal yang menjadikan SMK menjadi favorit baru:
- Kebijakan pemerintah yang sedemikian intens menggarap SMK [dari iklan dan peraturan-peraturan] menjadikan SMK menjadi favorit, terlebih wacana pendidikan gratis untuk siswa SMK Negeri di Surabaya sangat menggiurkan masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Alasan ini menjadi salah satu yang menempati urutan tertinggi. Jika tidak gratis, tetap SMK Negeri lebih murah dari pada SMA.
- Masyarakat mulai berpikir lebih panjang “ke mana anak mereka setelah lulus pendidikan menengah atas?” Seperti bisa dimaklumi, bahwa lulusan SMA memang tidak siap kerja dengan skill/keahlian teknis, sementara SMK menjanjikan hal itu. Fenomena banyaknya lulusan SMA yang menganggur tak bisa lagi dianggap sepele bagi masyarakat terlebih para pemegang kebijakan. Wajib belajar 9-12 tahun tetap akan menjadi program tanpa gigi, tanpa ruh, tanpa spirit kalau setelah meereka terdidik ternyata hanya untuk menganggur tanpa kemampuan/keahlian???
- Kebijakan bahwa lulusan SMK tak bisa melanjutkan kuliah terbantahkan sekarang. Lulusan SMK bisa langsung melanjutkan ke jenjang perkuliahan jika memang memiliki kemampuan finansial lebih.
Jadi, kalau biaya pendidikan bisa gratis [paling tidak lebih murah dari SMA], terus memiliki keahlian pasca-lulus juga bisa melanjutkan ke perkuliahan bila mampu, maka pertanyaannya: “Kenapa tidak memilih SMK?”
Dampaknya, bisa dimungkinkan bahwa prediksi saya nilai minimal 33-34 untuk bisa masuk SMA Negeri Surabaya bakal terkoreksi menjadi 32-33. Angin segar bagi para pendaftar SMA? Belum tentu! Bola masih menggelinding dan terus bergulir. Mudah-mudahan anda yang diterima di sekolah favorit sesuai pilihan dapat mengelola nikmat yang diraih dengan baik dan benar. Sementara bagi anda yang tertolak, bukan berarti gagal mendapat yang terbaik.
Prasangka baik pada-Nya akan menuntun ke kehidupan yang lebih baik. Apapun sekolahnya. Amin.
Mencermati PSB Surabaya 2008: Kasuistik dan Lokalitas
Prosesi PSB Surabaya Online 2008 belum berakhir saat tulisan ini diterbitkan. Baru sepertiga jalan, sampai pada pengambilan formulir yang berlangsung selama 3 hari dari tanggal 3-5 Juli 2008. Jeda satu hari untuk libur, tanggal 7-9 Juli proses pengembalian formulir yang kemudian di-entry dan diproses di server ITS. Jeda satu hari, baru pada tanggal 11 Juli diumumkan hasilnya. Bagi yang diterima, hari itu juga diminta daftar ulang dan diberi kesempatan terakhir esok harinya.
Masih terkait dengan tulisan saya sebelumnya, dari prediksi yang saya tulis, ada yang belum saya ungkap terkait rayonisasi dan pembagian kawasan. Penting dan patut dicatat bahwa sistem rayonisasi dan kawasan telah benar-benar efektif untuk pemerataan siswa-siswa pandai. Jika sebelumnya terkonsentrasi di sekolah favorit, maka dengan aturan ini, tak semua siswa dapat bebas memilih sekolah favorit di pusat kota.
Lantas apa relevansinya dengan judul tulisan?
Selama tiga hari pengambilan formulir di sub rayon 06 kawasan barat [Surabaya Barat], tepatnya di SMAN 11 Surabaya, para petugas yang menjaga 6 loket dibuat kaget dengan SKHU Sementara [Surat Keterangan Hasil Ujian] para pendaftar. Boleh jadi prediksi saya benar bahwa angka terendah diterima di SMA Negeri adalah 33-34. Tidak menjadi masalah ketika nilai itu jatuh pada mereka yang benar-benar memperolehnya dengan upaya keras. Tapi, nilai baik yang masuk ke sub rayon 06 tidak lagi menjadi dominasi 6 sampai 8 SMP Negeri di kawasan Barat, justeru sebaliknya, menjadi dominasi SMP Swasta kawasan Barat. Boleh jadi prosentasenya 30:70 [swasta:negeri] yang jauh melampaui kebiasaan yang berada di kisaran 10:90.
Kesuksesan SMP Swasta kawasan Barat selayaknya mendapat acungan jempol dengan tingginya prestasi yang mereka raih. Tentunya proses yang diupayakan adalah upaya yang benar. Tapi menjadi masalah ketika hasil UN tersebut diraih dengan cara tidak benar.
Hal ini membuat guru-guru sekolah negeri memasang tanda tanya sekaligus tanda seru di atas kepala mereka. Tak hendak menyepelekan mereka. Sungguh tidak. Tulisan ini dibuat sekadar menggambarkan kekhawatiran sekaligus kegusaran para guru negeri yang memang tau persis kualitas sekolah swasta di kawasan Barat. Tak bermaksud men-generalisir semua sekolah swasta. Juga tak bermaksud memandang rendah sekolah swasta yang ada di kawasan barat. Sekadar bentuk keprihatinan akan parahnya hasil UN SMP 2008.
Sekadar mengutip pernyataan salah seorang petugas loket, “Ya Allah, pak! Masak anak swasta xxxx NUN-nya 34,xx tapi gelang di tangan kayak rocker, pegang rokok, tanya ke petugas seperti ke temannya.. Aduuuuh paaaaakkkk! Mau jadi apa sekolah ini kalo kemasukan anak model gitu?” [komentar asli lebih pedas dari itu]. Saya sendiri sempat berpapasan dengan salah seorang pendaftar yang berusia SMP dan dengan enaknya melenggang dengan rokok di tangan. Meski belum tentu dia siswa swasta atau negeri.
Ketika dilakukan evaluasi, ternyata keluhan umum yang ada dan menjadikan kegusaran adalah jatuhnya nilai SMP Negeri dan melejitnya nilai SMP Swasta. Pertanyaan yang muncul, murnikah hasil UN mereka? Dasar pertimbangan sudah sangat jelas bahwa mutu/kulitas mereka di bawah SMP Negeri kawasan barat. *Mohon maaf yang sebesar-besarnya*
Hhmmmmm….. Satu alasan lagi bagi saya untuk mengukuhkan diri di barisan PENOLAK UJIAN NASIONAL.
Muda-mudahan ini kasuistik dan sangat lokalitas serta tidak terjadi di tempat-tempat lain bahwa Ujian Nasional tak layak menjadi tolok ukur kualitas sekolah dan pendidikan Indonesia. Juga tak layak dijadikan standar pemeteaan mutu pendidikan secara nasional.
Untuk Sang Kenangan [4]
Menyongsong Kemarau
Dinginnya kemarau di malam yang kering semakin menyiksaku dalam bayanganmu. Engkau masih dalam kebekuan, sebeku pertemuan terakhir di awal penghujan enam musim lalu.
Percintaan kita enam musim lalu seolah menjadi bias pelangi. Keputusanmu juga aku mengakhiri semua adalah kemarau terpanjang sepanjang musim dalam dua dasawarsa hidupku. Mungkin juga hidupmu.
Kau begitu indah dari semua kenangan yang tercipta. Kau memesona dalam duka dan tawa. Ah… Aku terlalu memujamu? Bias ilusi darimu yang tak pernah mengecewakanku? Sungguh, meraihmu dan mendampingimu membuatku menjadi laki-laki sejati. Aku dalam bayang-bayang pesona luar biasa hingga aku tak sadar bahwa engkau memang bukan untukku. Aku pungguk engkau bulan.
Kekasih, -ah, aku malu, merasa tak pantas!- jika saja kau masih mengijinkannya aku panggil kau begitu. Sejujurnya, aku sudah muak dengan kenangan-kenangan menjerat ini. Muak pada diriku sendiri yang selalu memujamu setiap ingatan itu kembali. Muak pada pecundang, pada wajah yang muncul setiap aku menatap cermin.
Kemarau ini menyengatku! Seperti halnya kemarau enam musim lalu, aku terseok dalam pusaran badai padang pasir. Kau adalah dahaga tak terpuaskan. Menyengat.
Kemarauuuuuuu… Aku songsong engkau sebagaimana enam musim lalu. Dan, selalu kuulang tiap musim, Aku Pecundang!
Kusongsong engkau dahagaku!
Disclaimer: Tulisan ini kelanjutan dari Untuk sang kenangan [bag.1], [bag.2] dan [bag.3]. Kebetulan tertulis pada saat menikmati tontonan menegangkan Spanyol-Jerman
















