Permasalahan yang Menghadang Dunia Petani dan Pertanian

Tulisan sebelumnya baik dari ide awal sampai pada dilontarkannya ide untuk pembahasan bersama isu petani dan pertanian, ternyata mengundang banyak perhatian para bloger terlebih saat bang JSOP memberikan kontribusinya dalam sebuah artikel pendek. Jujur harus diakui bahwa kapasitas bang JSOP mejadikan traffic ke blog saya meningkat tajam. Hingga beberapa hari ada trouble di database saya

—***—

Ruwetnya kompleksitas masalah yang mengelilingi petani dan pertanian yang menjadikannya sulit bergerak. Sebenarnya, saya sendiri sangat bingung dengan kompleksitas masalahnya, hendak mencari dengan metode deduktif atau induktif dalam perumusan masalahnya. Satu sama lain saling terkait dan susah hendak mengurainya, kalau dianalogikan seperti pertanyaan “Lebih dulu mana, antara ayam dan telur?”


Sepintas, permasalahan petani dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian besar, permasalahan suprastruktur, infrastruktur dan sosial serta alam yang dalam hal ini berkaitan dengan iklim. Keempat permasalahan tersebut saling terkait satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan dalam mencari solusinya.

Permasalahan Suprastruktur

Pertanian sebagai salah satu hajat hidup orang banyak, mau tak mau membutuhkan penanganan serius dari pemerintah seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang Dasar republik ini. Jatuh bangunnya pertanian tak lepas dari seberapa peduli para pengambil kebijakan memikirkan petani. Kebijakan yang berorientasi jangka pendek dan solusi instan atas permasalahan perut rakyat terbukti tak membuat perbaikan dunia pertanian. Terlebih setelah proteksi atas pertanian harus dicabut secara bertahap melalui MoU bangsa ini dengan kapitalisme global semakin memperparah keadaan. Impor sebagai solusi instan semakin menurunkan daya saing pertanian bangsa ini di kancah global dan melemahkan posisi petani Indonesia.

  1. Good Will Pengambil kebijakan yang berpihak pada petani bahwa mereka layak mendapatkan perhatian dan penghargaan lebih dari yang lain tampaknya belum ada. Intervensi kapital global melalui tangan WTO, IMF, Bank Dunia membuat petani harus membayar mahal ongkos produksi dan menuai hasil yang jauh dari profit margin.
  2. Tenaga Ahli yang siap mendampingi petani dari awal proses hingga pasca tak mampu berbuat banyak dengan tidak ada keberpihakan dan perhatian yang serius dari pengambil kebijakan.
  3. Riset penelitian dan pengembangan yang ramah lingkungan untuk semua produk pertanian jarang bahkan kecil sekali untuk mendapatkan tempat yang layak untuk diimplementasikan.
  4. Optimasi peran Bulog sebagai lumbung negara mengadopsi fungsi dan peran lumbung desa yang seringkali malah menjadi makelar yang cari untung sendiri dan kurang menunjukkan keberpihakan pada petani.
  5. Dunia perbankan yang kurang bersahabat untuk menjadi mitra petani dengan mendanai setiap proses produksi hingga pasca produksi menjadikan petani semakin tak berdaya. Kredit lunak yang selama ini lebih banyak mengalir ke kantong industri dengan perputaran uang lebih cepat membuat dunia pertanian tidak masuk hitungan bisnis mereka.

Permasalahan Infrastruktur

  1. Lahan, berkurangnya lahan pertanian yang tak hanya karena alih fungi menjadi pemukiman dan industri menyumbang penurunan angka produksi pertanian
  2. Irigasi, bukan barang baru bahwa sistem irigasi menjadi barang mahal di dunia pertanian. Waduk dan bendungan yang diharapkan tak hanya menampung air hujan, kurang mampu memainkan perannya untuk menjadi sistem irigasi yang baik bagi dunia pertanian
  3. Bibit, Pupuk, yang bila dikonfirmasi ke produsen pupuk selalu dalam keadaan siap, namun kenyataan menunjukkan tingginya frekuensi kelangkaan pupuk di pasaran. Tingginya harga pupuk yang sampai ke tangan petani merupakan side effect lainnya
  4. Jalur distribusi yang sedemikian panjang dari produsen hingga petani seperti sudah biasa di negeri ini. Analog dengan dunia farmasi dan kedokteran yang melambungkan harga obat-obatan di negeri ini.

Permasalahan Sosial

Kerja kasar dan bersentuhan dengan lumpur memberi stigma negatif akan pekerjaan mulia ini yang tak boleh disandang oleh para anak bangsa yang makan bangku kuliah atau minimal SMA. Stigma bahwa bertani adalah pekerjaan yang hanya layak untuk mereka yang tak berpendidikan membuat generasi anak bangsa ini berada sejauh mungkin dari pertanian. Penderitaan dan gambaran susahnya kemakmuran menghinggapi petani secara umum telah menciptakan pola pikir di kalangan petani sendiri bahwa anak-anak mereka harus sekolah dan kuliah untuk mendapatkan kerja yang terhormat dengan bekerja di kantoran dan di kota. Pulang membawa keluarga dengan tunggangan roda empat dan sekoper uang yang siap dibagikan ke seluruh warga desa.

Permasalahan Alam dan Iklim

Perubahan iklim yang merupakan isu populer saat ini mau tak mau menjadi salah satu penyebab ambruknya produksi pertanian. Iklim yang tak menentu membuat petani sulit memprediksi kapan awal musim dan banjir tak terduga membuyarkan mimpi panen raya petani.

Masalah demi masalah yang mendera petani layak mendapatkan perhatian serius dari seluruh komponen bangsa ini. Keberlangsungan kerja mereka sangat mempengaruhi keberlangsungan perut kita. Jadi, siapapun anda, wajib memperjuangkan petani apapun caranya.

Punya solusi? Mari berbagi!

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • blinkbits
  • BlinkList
  • blogmarks
  • BlogMemes
  • Netscape
  • Webride
  • LinkaGoGo
  • Spurl

Artikel terkait:

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.




Comments

Yup, perbaikan suprastruktura dan infrastruktur pertanian sepenuhnya saya setuju, pak. yang tidak kalah penting dipikirkan adalah bagaimana mengubah paradigma dan kukltur masyarakat kita yang agraris. sebuah istilah yang sangat ironis, menurut saya. negeri agraris tapi generasi mudanya tak banyak yang bergerak di bidang pertanian. gengsi dan gaya hidup masyarakat yang anomik telah membuai impian sebagian besar orang tua untuk tidak merasa bangga jika disebut sebagai petani. *Ini penyakit yang menyerang saya juga, hiks * Fakultas2 pertanian selama ini tampaknya juga belum menghasilkan karya2 yang layak dibanggakan. produk unggulan jambu, jeruk, dll semuanya masih serba luar negeri. ini tantangan juga bagi fakultas pertanian untuk melakukan penelitian mendalam agar mampu menghasilkan produk2 pertanian yang bisa digunakan oleh masyarakat petani kita. juga perlu ada perubahan paradigma dan kultur masyarakat utk kembali ke “khittah”-nya sebagai masyarakat agraris.

sawali tuhusetya’s last blog post..“Perang Sastra” Terus Berlanjut?

wah..nulis pak tani terus saiki,rek.
-
eh mas..malam ini saya ke sby. ono acara di gedung PWNU anyar, sesok bengi.

bapake evan’s last blog post..NU..Berlagaklah Bodoh!

Optimasi peran Bulog sebagai lumbung negara mengadopsi fungsi dan peran lumbung desa yang seringkali malah menjadi makelar yang cari untung sendiri dan kurang menunjukkan keberpihakan pada petani.

itulah keadaan sekarang yang sangat memprihatinkan, bulog yang mempunyai wewenang dalam bidang logistik, tapi justru mencari-cari keuntungan dari para petani..

ridu’s last blog post..Ikutan Maia Ahmad Akh..

Mas gempur ,

Agak mundur selangkah ya mas , saya melihat anda memiliki kapasitas untuk dijadikan modal sosial bagi terciptanya komunitas ’surat listrik’ atau komunitas didunia maya ini yang secara konkrit bisa melahirkan jaringan masyarakat madani yang cukup mumpuni .

Sebab selain anda sendiri disini namun juga banyaknya pemikir disekeliling anda yang kemudian bisa disebut sebagai civil society yang sebenarnya . Maaf saya memakai istilah “yang sebenarnya” sebab yang muncul dipermukaan saat ini adalah mereka yang semakin jauh kaki dari bumi yang diinjak sendiri .

Teman-teman disini tentu paham definisi serta kebutuhan bagi sebutan masyarakat madani tadi . Seandainya bisa benar-benar mampu mewujudkan hal tersebut diatas , maka semua pertanyaan yang mengendap tentang paradigma salah kaprah bagi kerja tani yang kotor / kumuh / miskin dan tidak intelek dan lainnya bisa tersingkirkan dengan sendirinya .

Saya sendiri memikul profesi sebagai seniman mas , tugas saya adalah meniup terompet agar kebenaran serta hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan bisa terdengar nyaring dimana-mana , kewajiban saya juga membangun jaringan kelompok para peniup terompet tadi .

Tentu saja sebagai seniman murni (independen) kami memiliki pasport bebas birokrasi dan bebas keluar masuk ruang-ruang yang berstempel icon dan lambang yang kerapkali justru malah menjadi pagar yang membatasi . Intinya kami analog dengan bakteri amuba mas hehehe , jangan dipelihara atau di ijon … sebab pasti akan mati .

Semoga satu saat bisa berguna , salam

untuk menanggapi Permasalahan Sosial, mgk ada benar nya..jadi si nandur beras mengko arek S1 lulusan pertanian :D
cempluk’s last blog post..Kopdar TPC diiringi ngendikan AntoBilang

@ sawali:

Fakultas2 pertanian selama ini tampaknya juga belum menghasilkan karya2 yang layak dibanggakan. produk unggulan jambu, jeruk, dll semuanya masih serba luar negeri. ini tantangan juga bagi fakultas pertanian untuk melakukan penelitian mendalam agar mampu menghasilkan produk2 pertanian yang bisa digunakan oleh masyarakat petani kita.

Sebenarnya, penemuan-penemuan baru di bidang pertanian sangat bervariatif dan jumlahnya cukup banyak. sayangnya, kembali pada respon dan kemauan pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh departemen pertanian. Penenliti sendiri diharapkan bisa menggandeng sektor swasta untuk mendanai riset dan sekaligus implementasinya. Hanya, permasalahannya, sejauh mana kapasitas sektor swasta mampu menampung hasil penelitian yang membutuhkan dana besar sampai pada taraf implementasinya? belum lagi persoalan berapa harga akhir dari produk di tangan konsumen bila dipegang sektor swasta yang berorientasi pada profit?

Kembali pada niat baik dari pemerintah dalam mengatur regulasi yang benar untuk kepentingan petani dan perut bangsa ini.

@bapake evan:

wah..nulis pak tani terus saiki,rek.
-
eh mas..malam ini saya ke sby. ono acara di gedung PWNU anyar, sesok bengi.

iya pak! wetengku bengok2 njaluk wareg terus, magkane aku bengok2 ben pak tani sergep nandur trus pemerintahe ben gelem nggatekno.. hehehe…

Sepurane cak! aku nang cikampek ada acara nganter istri pulang kampung.. hehehehe.. liyo dino tak temoni sampean.. jagingan sampek isuk tak belani.. hahahaha

@Ridu: susahnya hidup di negeri ini, pengayom tidak mengayomi malah menjajah! :-( tapi itu hanya oknum loh! ;-)

@JSOP: ah, bang yockie terlalu berlebihan dalam menilai.. ini hanya sekedar pemikiran enteng bagi para akademisi dan pengambil kebijakan, sementara, saya memutar otak habis-habisan hanya untuk menghasilkan tulisan sampah ini.. Civil society yang dimaksud bang yockie memang menjadi harapan dan angan-angan saya. semoga tidak muluk-muluk. meski sebebnarnya tulisan ringan ini sudah banyak membuat orang jengah membacanya.. terlalu basbang dan kurang aktual serta relevansinya yang nol koma sekian persen dengan keseharian kita semua. Apa yang saya sebut sebagai kehancuran pertanian ternyata bukanlah sebuah kehancuran, nyatanya, banyak orang indonesia yang masih bisa makan dengan lahap. meski sebenarnya jika mau bertanya, “nasi dari mana yang saya makan ini?” maka jawabnya bisa sangat beragam, bisa dari cianjur, thailand, india, filipina bahkan amerika.. yang tentunya mengebiri petani kita yang hanya menikmati keringat. sementara, mereka makan saja beras harus beli lagi.. ironis, petani padi memakan nasi dengan membeli, bkn dari apa yang mereka panen..

@andibagus: benar, mas! lulusan s1 pertanian bukan tak mungkin kembali mencebur ke lumpur, tapi tidak hanya peluh yang ia keluarkan, tapi otak dan strategi harus dimainkan..

gempur’s last blog post..Permasalahan yang Menghadang Dunia Petani dan Pertanian

Saya sangat setuju dengan perbaikan infrastruktur pertanian. Saya merasa kasihan dengan kehidupan para petani sekarang ini. Mereka sudah berusaha untuk peras keringat dan banting tulang, namun kesejahteraan yang diharapkan untuk mereka belum dapat tercapai.

Terus terang saja. Banyak famili-famili saya yang bekerja sebagai petani berkeluh kesah dengan kondisi yang saat ini. Untuk memulai bertani harus mengeluarkan modal yang besar terutama untuk bibit, pupuk dan pemeliharaan sehari-hari.

Edi Psw’s last blog post..Apakah Tujuan Pendidikan?

Saya rasa permasalahan sosiallah yang merupakan biang kerok dari semua masalah pertanian kita. kalau sekiranya banyak anak2 muda yang mau bersekolah di sekolah pertanian, maka saya yakin tenaga2 terdidik yang telah dihasilkan tersebut bisa mencari jalan keluar terhadap 3 pokok permasalahan lainnya. tapi sekarang untuk mencari jalan keluar terhadap permasalahan sosial ini apa? ini yang belum saya tahu

Hair’s last blog post..Aurat Perempuan, Pemandangan Terindah Yang Pernah Tercipta

bukankah bapak presiden kita lulusan dari pertanian juga? ato jgn-jgn dibangku kuliahan sudah tidak diajarkan bagaimana menjadi petani yg modern dan ber-akal, tapi di ajarkan bagaimana menjadi petani yg tidak usah bekerja tapi bisa menghasilkan padi dsb

[ jgn dianggap serius, hanya pemikiran saya aja yg lagi error wekekekeke. ]

Mbah Sangkil’s last blog post..Anak Pintar

hal yang pertama yang perlu dibasmi adalah…. (dah tau kan), nah itu yang perlu dibasmi duluan, nampaknya memang sudah menjadi penyakit turunan, tiap taon banyak UU dan tiap taon UU dilanggar, petani adalah korban dari segala tindakan, minyak mahal dia mau beli pake, pupuk mahal dia harus gimana?

dodot bosan ngeliat ini semua.

pertanian masih cuma jadi ajang tebar pesona bagi para pejabat, orang muda tidak melihatnya sebagai prospek yang menjanjikan, petani di Jawa kekurangan lahan, transmigrasi kurang sosialisasi dengan rakyat setempat hingga menimbulkan friksi & aparatnya seperti saya masih sibuk mengurus kenyangnya perut sendiri *hiks sedih*

tomy’s last blog post..Katakan “YA” pada Hidupmu

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)



This blog uses the CommentLuv plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.