Political Will untuk Petani?

Artikel ini ditulis oleh Bang JSOP dan dikirimkan Kepada saya [baca: mbah sangkil] yang diletakkan di bagian komentar di artikel saya di sini. Karena pandangan seorang JSOP bagi saya cukup penting dan sangat penting bagi saya, maka tak pantas saya biarkan dia di bagian komentar, untuk itu saya jadikan artikel tersendiri yang sungguh bagi saya layak mendapatkan apresiasi yang lebih. Kepada Bang JSOP, matur nuwun sanget, juga mbah sangkil yang melalui perantaranya, bang JSOP mau singgah di blog saya.

—*****—

Pertahanan hidup paling mendasar adalah masalah memenuhi kebutuhan isi perut . Secara kebetulan wilayah kita amat sangat bersahabat dengan terpenuhinya kondisi tersebut . Namun begitulah sifat manusia yang selalu merasa tak pernah ‘cukup’ , bahkan lebih di-perparah lagi situasinya oleh pengelola negerinya sendiri .

Bahwa beras adalah makanan pokok kita sejak jaman nenek kakek moyang kita dan bukannya ubi/talas maupun gandum, koq bisa sampai lupa dipelihara keberlanjutan sistem produksi dan cocok tanamnya. Demikian juga dengan kebutuhan tempe tahu , ikan serta beberapa jenis lauk pauk lainnya. Ini adalah masalah kultur, kebiasaan dan kebutuhan yang sudah mendarah daging bagi terciptanya manusia-manusia yang kemudian bisa disebut orang Indonesia. Artinya bukan sekedar masalah selera yang bisa berubah-ubah atau diubah-ubah sekehendak hati orang lainnya saja. Lha koq menteri pertaniannya malah bisa ngomong “tempe dan tahu kan bukan masalah penting…” . Jangan sampai suatu saat nanti dia juga berkata ” ah….. beras sudah kuno … mari kita sekarang mengkonsumsi hapermut yang lebih bernilai kalori supaya bisa lebih pinter seperti orang dari luar negeri…”

Bukankah ini menunjukkan bahwa ‘mereka’ tidak memahami tugas dan posisi mereka sebagai abdi/pelayan bagi masyarakat petaninya sendiri. Ketika modernisasi diberlakukan dan dibukanya pintu lebar-lebar bagi industri pangan seperti ayam goreng gaya kolonel kentucky disebelah warung mbok berek, mc Donnald dengan kentangnya disetiap sudut-sudut penjuru kota hingga sudah ada yang masuk ke wilayah kampung. Pertanyaannya harus kita jawab dulu, sebelum kita sepakat mencari solusi bagi keberlanjutan dunia pertanian atau kelangsungan kerja para Pak Tani dan Bu Tani kita , antara lain;

Turun kesawah beramai-ramai sambil berbincang-bincang dengan para petani berbecek-becek/berlumpur-lumpur, padahal di ruang kantornya baru saja dia menandatangani ijin masuknya/ import komoditas hasil pertanian yang bersangkutan tersebut .
Saya sama sekali tidak meremehkan upaya membangun kesadaran dari berbagai kelompok masyarakat kita . Namun sejarah sepuluh tahun terakhir ini nyata-nyata telah memberikan pelajaran konkrit untuk bisa kita jadikan cermin bagi berbenah diri .
Lha… masih mending jaman nya Pak Harto, kalau kita bicara dalam konteks industri pertanian kita, sialnya ya hanya itu yang paling bisa dibanggakan .

Maaf , kalau alur komentar saya lebih condong menyentuh wilayah politis, karena sejatinya memang masalah kebutuhan isi perut kita adalah masalah politis. Karena itu punya nilai kepentingan yang teramat tinggi bagi para penguasanya. Sementara saya taunya mungkin hanya sebatas sudah diletakkan diatas meja makan kita . Sesaat dia absen… baru saya bingung.. apakah gerangan yang sedang terjadi ..,

salam.

jsop

—*****—

Catatan:

JSOP kependekan dari Jockie Soeryoprayogo adalah musisi kondang yang biasa cangkruk dan bermain musik bareng dengan pak Budi Rahardjo saat-saat ini.. Dulu personel God Bless dan juga menggawangi Kantata Taqwa besutan Setiawan Djodi dengan vokalis handalnya Iwan Fals dan Penyair Besar “Si Burung Merak” W.S. Rendra.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • blinkbits
  • BlinkList
  • blogmarks
  • BlogMemes
  • Netscape
  • Webride
  • LinkaGoGo
  • Spurl

Artikel terkait:

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.




Comments

Barusan Lihat di tv, soal pangan lagi.

Saya setuju kalo dibilang wilayah perut adalah wilayah politis. Masih ingat ketika kita swasembada pangan walau hanya beberapa tahun dengan jumlah biaya yg fantastis atas dasar kebijakan yg fantastis juga. Pada saat itu hasil pertanian kita hampir berkali-kali lipat dari hasil pertanian negara maju amerika serikat. OK kita setuju dengan hasil gerakan swasembada pangan itu. tetapi kita tidak menyadari Hutang kita menumpuk, tahun 1986 jumlah utang kita berkali-kali lipat dari pinjaman yg kita dapat. Disinilah awal Hancurnya ketahanan pangan kita, kita ditekan IMF dengan mengharuskan komoditi pangan kita dilepas ke pasar bebas, sehingga hasil produksi pangan kita dibatasi dan diatur oleh kapitalis-kapitalis tak bermoral itu. Akibat yg terjadi adalah harga bahan pokok melambung karena jumlah permintaan lebih besar dari jumlah ketersediaan. Hal ini diperparah dengan resesi ekonomi dunia 1998 yg mana akhirnya kita benar-benar terpuruk

Saat ini kita benar-benar menghadapi ketahanan pangan pada level terbawah, benar benar miris, harga bahan pangan naik drastis dan imbasnya adalah “following product” juga ikut meroket seperti kecap, tepung terigu, daging dll. Dan herannya [sebenarnya sih gak heran cuma kok dilakukan berulang-ulang] pemerintah menghadapi hal ini selalu menggunakan cara-cara instan yg jelas-jelas merugikan petani. Import-import bahan pangan di galakkan dengan cara menghapus bea dan pajak impor untuk beberapa bahan pangan. Beberapa korporasi ditunjuk sebagai “makelar”. Kenapa sih kebijakannya harus “mendewakan” barang import? Bukankah harusnya pemerintah tidak mengimport tetapi memperjuat ketahanan pangan kita, mungkin dengan memeberikan subsidi pupuk, memberi intensip kepada petani, ato mengajak instansi-instansi yg kompeten untuk mencari solusi yg lebih bijak seperti Kampus, balai penelitian, bahkan kalo perlu memberikan tanggung jawab kepada pemeritah daerah untuk menggalakkan pertanian yg sehat dan benar.

sebenarnya masih panjang…berhubung hujan dan petir melanda, maka saya dengan berat hati harus mematikan komputer, masih trauma server kena petir dan banyak data penting yg hilang hiks….

Mbah Sangkil’s last blog post..Anak Pintar

sedikit tambahan mungkin artikel ini bisa jadi acuan

http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=81

Mbah Sangkil’s last blog post..Anak Pintar

@Mbah Sangkil: Sepakat Berad Bos! saya sedang menelusuri kucuran dana 4 trilyun yang barusan tadi sore saya liat di layar kaca.. Pemerintah menganggarkan dana untuk memompa produktifitas pertanian yang menekankan pada jagung, padi dan satunya lagi saya lupa dengan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi.. sik yo.. tak googling dulu.. hehehehe

hehe selalu bersikap reaktioner ya .. kalau sudah kelelep sampai leher baru teriak bahaya banjir .

Sebetulnya saya ingin sedikit meluruskan tanggapan saya tersebut , jangan sampai dipahami menjadi sikap yang skeptis apalagi pesimistis dari saya .

Namun saya lebih ingin bermaksud untuk mengatakan bahwa , upaya-upaya yang akan dikerjakan oleh berbagai kalangan masyarakat sudah seharusnya dilakukan secara kolektif/bersama serta seiring dengan berbagai issue terkait lainnya . Sebab langkah-langkah secara parsial sudah terbukti tidak menghasilkan resonansi balik yang diharapkan .

selamat bekerja mas gempur .
(walaupun lewat blog , inipun sudah katagori bekerja bukan?)

Sori, saya sangat nggak setuju kalo dibilang masih mending jamannya Pak Harto, meskipun bicara dalam konteks industri pertanian kita. Bagaimanapun juga, pernyataan seperti itu adalah ahistoris (sekali).

STR’s last blog post..Catatan Hari Ini: Tumpang Tindih Pembangunan

@JSOP: Justeru sebaliknya bang! saya melihat tulisan sampean itu bermakna sebagai optimisme yang berbaju pesimis hehehehe.. Senada dengan mbah sangkil dan STR, swasembada yang dihasilkan oleh kebijakan era orde baru lebih banyak mengandung bahaya laten yang sangat rentan ambruk dan itu terbukti sudah..

Sebenarnya yang dilakukan oleh Orba sama seperti yang dilakukan oleh USA dalam hal subsidi dan proteksi. Hanya kemudian yang menjadi masalah adalah kekuatan yang dibangun Indonesia pada waktu itu masih berada dalam bayang2 USA, sehingga ketika USA tersaingi produksinya, melalui IMF, World Bank dan WTO, Indonesia ditekan habis2an.. mandullah petani untuk kesekian kalinya.. Masalah berikutnya, Indonesia yang diharap bakal menjadi macan ekonomi asia ternyata hanyalah mimpi di siang bolong.. kesemuan yang dibangun oleh orba dengan stabilitas politik yang menopang pertumbuhan ekonomi itu mengalami krisis habis2an..

Solusinya? sebentar, saya pikirkan dulu.. hehehehe..

Solusinya, Indonesia harus bertapa untuk kemudian merumuskan formulasi yang cerdas dan mempertemukan semua kepentingan terkait ketahanan pangan..

Itulah kenapa saya menggagas lebih tepatnya mengusulkan industri pertanian yang mandiri yang menjadi industri nasional yang handal yang mampu bersaing di dunioa internasional tanpa tergantung dari luar. Misal saja, alat-alat pertanian, kita harus memiliki industri yang memroduksinya, untuk efisiensi, tambahkan sebagai diversifikasi usaha dari industri yang sudah ada agar investasi bisa ditekan. Hal yang sama diberlakukan dari hulu hingga hilir. Dari bibit hingga distribusinya.

Kesemuanya didanai oleh negara melalui BUMN-nya, dan ini membutuhkan good will-nya pengambil kebijakan bagaimana mengelola APBN dengan benar. Jangan anggaran APBN yang ada dihamburkan untuk pemecahan solusi sesaat yang serba instan.

Wah, salut banget nih. Umpan yang dilempar Pak Gempur sebenarnya menarik juga. cuman saya ndak mampu ikutan. benar2 ndak punya materi untuk dijadikan postingan. ntar malah OOT, hehehehe :lol: sejak jadul mah urusan perut memang nomor 1. orang berkelahi, bahkan harus menumpahkan juga karena urusan perut. yang jadi persoalan sekarang sebenarnya bagaimana kaum elite kita bisa berpihak kepada para petani seperti yang dikemukakan oleh Bung JSOP itu.

sawali tuhusetya’s last blog post..“Perang Sastra” Terus Berlanjut?

ah saya baru tahu kalau mas jockie juga seorang blogger toh.. komentarnya cukup bagus untuk memotivasi kita agar mencari alternatif sumber pangan yg lain selain beras tentunya, bisakah? siapkah?

Totok Sugianto’s last blog post..Professional Blogger

[…] itu, saya juga sempat membuang “sampah” ke “rumah” Puput, Mbak Chika, Pak Gempur, Pak Edi PSW, Mas Cempluk, atau Tan Andalas. Namun, semua “sampah” itu tak jelas lagi […]

Pemerintahan sekarang hanya bisa ngimpor-impor saja dan hampir semua komoditi pangan cenderung bergantung pada impor.. impor.. dan impor.. Akibatnya, ketika harga kedelai dinaikkan, kita menjadi glabakan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, pemerintah lebih memberikan intensif, kemudahan, dan fasilitas kepada para petani. Sehingga para petani lebih terpacu. Bukan seperti yang sekarang ini. Impor pangan (khususnya kacang kedelai) dibuka seluas-luasnya. memang berhasil untuk jangka pendek, jangka panjangnya gmn?

Anas’s last blog post..Soeharto jadi pahlawan?

Pertahanan hidup paling mendasar adalah masalah memenuhi kebutuhan isi perut

yup masalah primer negara harus turut serta mengamankan demi kepentingan rakyatnya… dan harus tersedia… karna bagaimanapun perut urusan nomer wahid…. masalah kebutuhan kedua, ketiga… kalo perut sudah beres.. lainnya menyusul deh…

Anang’s last blog post..Blog Dian Sastrowardoyo

@mas STR,

Saya koreksi ya , kalimat masih mending jaman pak Harto memang kalimat bersayap , saya khilaf tidak menyertakan tanda kutip disana . Perlu saya klarifikasi agar saya tidak termasuk dalam “barisan politik orba.”

Terimakasih mas atas kritikannya.

@mas Totok Sugianto,

Tentu saya bersedia asal sebatas wilayah kompetensi saya . terimakasih mas.

Sekarang sektor pertanian udah bisa dikatakan mati, bagaimana tidak lahan semakain sempit, kalo gini kita mau nanam beras dimana? Bukannya gak bela petani, tapi saya lebih sepakat kalo kita lebih memberikan perhatian lebih pada sektor perikanan. Perlu diketahui bahwa ketika krisis moneter lalu semua sektor perekonomian indonesia jeblok, kecuali sektor perikanan. Dan sampai sekarang Tiap tahunnya sektor perikanan selalu mengalami kemajuan. menurut sebagian pakar perekonomian, kalo kita bisa mengoptimalkan sumberdaya perikanan laut maka kita bisa mendapatkan keuntungan 1,5 kali lebih besar dari APBN Indonesia. Kebayang kan?

Hair’s last blog post..Yahoo! Diakuisisi Microsoft?

idealisme bangsa kita pun bisa dengan mudah digerus karena masalah perut. perang juga bisa terjadi gara-gara perut. kebutuhan dasar untuk bertahan hidup adalah pangan, bukan ivestasi asing… :D
Siti Jenang’s last blog post..Keindahan Butuh Kejelasan

“…..Maaf , kalau alur komentar saya lebih condong menyentuh wilayah politis…..”

itu dia mas gempur….
Politik benar2x telah ‘menguasai’ struktur ‘lahir dan batin’ bangsa….
saya pribadi (bukannya bermaksud makar…) tapi lebih cenderung utk ‘membubarkan’ sistem politik yg ada sekarang ini…
untuk digantikan dengan….
dengan apa yak….???

*ah, gak jadi deh….* :mrgreen:
udahlah mas gempur…
biarin aja politik menguasai ’sistem pangan rakyat kita…
tugas kita yg penting terus utk meng-utak-atik dan memberikan terobosan utk rakyat…
Selamat berjuang….
*Jiwa raga Saya yang akan jadi taruhannya utk membela mas gempur…*

*semangat ‘45 mode on* :mrgreen:

antarˆpulau’s last blog post..Sistem Kontroling

Musisi handal sekaligus blogger handal, tak heran komentarnya nggak kacangan.
Bisa jadi, tempe sekalipun bisa mempengaruhi popularitas SBY pada Pemilu 2009.
PS: dicari, presiden yang bisa jualan tempe, sambil poco-poco…

Dony’s last blog post..Sastro Ngeblog

masalah perut memang sangat genting huhuhuh
untuk urusan perut kadang2 perang malah dianggap sebagai solusi. banyak banget berita di tv yang menceritakan anarkis dilakukan oleh pihak2 yang mengaku sedang kelaparan, banyak juga diantara mereka malah ternyata benar2 kelaparan huhuhuhu

tapi maksud saya sebenernya untuk masalah ini sering kali orang2 yang sedang kelaparan tidak dapat menggunakan pikiran yang jernih dan selalu mengandalkan emosi. semangat boleh tapi kayanya kalo pake emosi apalagi menghujat kayanya yang lapar juga nggak bakal kenyang :D

kayanya yang perlu di ketahui tu musuh petani tu sapa sih sebenernya? pemerintah? pak harto? sby? para mentri? ato siapa sih sebenernya?

yang saya liat di tv petani itu kerepotan karna panennya gagal karna hama, karna bencana, karna hasil panennya di beli dengan murah oleh tengkulak, gak ada modal nggak punya pengetahuan bikin panen jadi lebih baik, kurang penyuluhan, dan beberapa hal lain yang saya lupa atau nggak tau.

tapi sayangnya saya juga nggak tau cara solusi yang lebih baik :(
mungkin saya cuma ikutan maki2 aja karna sebenernya saya juga nggak ngerti ama apa yang saya udah comentari huhuhuhuhuhu

@bedh

nah itu dia mas bedh, permasalahan petani itu kompleks, banyak banget. Tapi disini kita musti bedain mana yg vertikal mana yg horizontal.

Horizontal

penanggung jawab utamanya adalah pemerintah, kenapa saya bilang pemerintah, karena semua kebijakan berasal dari sana. Kebijakan untuk memberikan subsidi, pelatihan, sarana dan prasarana serta development pertanian itu sendiri. Dari pemerintah sebut aja presiden dengan kekuasaanya dan kewenangannya bisa mengeluarkan instruksi-instruksi yg “membela” petani, paling tidak membantu bagaimana petani dapat meningkatkan hasil pertaniaanya. perintah bisa dilakukan presiden melalui menteri [menteri juga punya team ahli kan] dan menteri yg mengatur semua dari target yg akan dicapai, program kerja, jangka waktu, evaluasi program kerja, modal, sarana dan prasarana, human development, penelitian, pemasaran, pengaturan harga pasar dan siapa yg bertanggung jawab ataupun siapa yg mengawasi jalannya program ini. Paling tidak kalo berhubungan dengan modal jgn sampai bocor lah. Kalo pengawasan dan evalusi dapat berjalan dengan baik, saya yakin apapun program yg dilakukan bila pengawasaanya baik maka hasilnya juga baik. Tentu kita juga jgn berharap program ini dapat dilakukan dalam waktu singkat, paling tidak bertahap sampai tercapai target yg ditentukan.

vertikal

dalam hal ini adalah bencana alam apapun kerusakan yg disebabkan oleh alam. Tapi ingat sebelum memastikan kerusakan ini dilakukan oleh alam, kita evaluasi dulu apakah benar-benar karena alam. Bencana bisa terjadi juga karena ulah manusia seperti penebangan pohon, irigasi yg jelek, penebangan hutan secara semrawut untuk lahan pertanian, ataupun penyebab-penyebab lain. Bila itu terjadi karena ulah manusia sendiri, ya kembali lagi masalahnya menjadi masalah horizontal

maap kalo tulisan saya tidak dimengerti, saya mungkin hanya bisa berbicara tapi tidak ada tindakan. bukan berarti saya takut untuk bertindak, jujur aja saya gak mengerti persoalan pertanian, tulisan saya ini hanya apa yg saya tangkap dari apa yg saya lihat, dengar dan rasakan.

Matur Nuwun

Mbah Sangkil’s last blog post..Anak Pintar

@ALL: beberapa penyebab kesulitan petani sedang dalam pembahasan saya, terkategori dalam 4 bagian besar, permasalahan suprastruktur, infrastruktur, iklim/alam dan sosial..

Perlu digarisbawahi bahwa inti dari semua artikel GEMPUR MEDIA adalah “mencari solusi” bukan “mencari siapa yang salah”. Jadi diharapkan kepada semua untuk tidak terjebak pada stigma bahwa GEMPUR selalu menggempur siapa saja tanpa mau membangun solusi… hehehehehehe… Terima kasih..

gempur’s last blog post..Political Will untuk Petani?

petani tinggal di desa. kita tinggal di kota. kita boleh aja bilang suharto perusak bangsa. tapi kalo mau blusukan ke desa terpelosok yang saat ini petaninya hidup miskin, pasti mereka bilang ENAK HIDUP DI JAMAN SUHARTO, PETANI HIDUP MAKMUR

[maaf, jangan buru-buru menganggap mereka bodoh karena berbicara seperti itu]

det’s last blog post..Kangen!

saya setuju dengan Bapak STR! karena semua itu adalah klise..

ridu’s last blog post..Survey Tawa Warga Jakarta

@Det: pada dasarnya, orde baru meletakkan dasar perencanaan pembangunan pertanian yang sudah tepat dengan model tahapan dalam pembangunan yang tertuang dalam repelita. Hanya masalahnya, dasar itu dibangun dengan mengorbankan kepentingan masa depan bangsa ini. Sehigga pencapaian yang diraih menjadi semu karena menafikan unsur kemandirian dengan mengandalkan utang luar negeri.

Akibatnya, apa yang terjadi saat ini merupakan dampak masa lalu, hancurnya perekenomian yang dibangun atas kaidah pertumbuhan yang ditopang konglomerasi berbau politis dan kkn mennjadikannya mudah goyah dan rapuh. Kekuatan ekonomi yang sbenernya terletak pada geliat ekonomi masyarakat menengah ke bawah dengan UMKM-nya.

Bisa anda kalkulasi sendiri, perbankan sebagai sektor yang paling banyak menyerap utang luar negeri di mana sebagian besarnya adalah bank swasta yang mendanai konglomerasi dalam jumlah besar dan uangnya tak kembali. kemudian negara membentuk BPPN yang belum lama dibubarkan untuk melakukan restrukturisasi perbankan dan menghitung ulang utang. Sementara yang paling menanggung kerugian terbesar adalah rakyat. termasuk yang paling menyedihkan adalah petani. Mengingat sebagian besar anggaran yang harus dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur harus menguap untuk membayar utang luar negeri perbankan nasional.

Belum lagi masalah lainnya terkait dengan keharusan mencabut proteksi untuk pertanian karena itu merupakan paket dari IMF. Dampak bagi recovery perbankan nasional kita. ehmmm, saya bingung sendiri untuk runtutnya bagaimana..? saya sudah agak lupa duduk perosalannya.. hehehehe

gempur’s last blog post..Political Will untuk Petani?

anehnya ada satu sikap petani yang saya pelajari…
saat panen mereka selalu bersyukur, gembira meskipun harganya anjlok…

*membaca komen-nya det dan kangguru*
Masalahnya Pak, para petani yang ada di desa itu, seringkali tidak peduli dengan politik segala macam. Bagi mereka, yang terpenting itu mereka bisa bekerja dengan baik, dan seluruh keluarganya bisa makan dengan baik pula… :(
suandana’s last blog post..terkadang…

Pertahanan hidup paling mendasar adalah masalah memenuhi kebutuhan isi perut . Secara kebetulan wilayah kita amat sangat bersahabat dengan terpenuhinya kondisi tersebut . Namun begitulah sifat manusia yang selalu merasa tak pernah ‘cukup’ , bahkan lebih di-perparah lagi situasinya oleh pengelola negerinya sendiri .
Saiah sih sepakat-sepakat sajah. Memang ya. saat-saat ini masalah pangan merupakan hal tersulit yang selalu saja dialami negara-negara-yang-entah-kenapa-kok-masih-dikatakan-sebagai-negara=-berkembang-setelah-berpuluh-puluh-tahun-berdiri.
jadi, pemerintah memang harus jeli dengan memenuhi hajat hidup rakyat. Mengimpor saja tanpa ditunjang dengan kemajuan ‘industri agraris’ dalam negri tentunya malah menghabiskan duit negara.
Dan sangat-amat-tidak membanggakan.
Kurangnya peratian terhadapa kaum minoritas seperti ~ petani agaknya yang membuat negri ini se,makin kere pangan. Harusnya, dijaga juga kemunculan ‘calon-calon’ petani yang kiranya akan sangat sulit terlahirkan. Notabene anak muda jaman sekarang tidak ada yang bercita-cita sebagai petani. Kita harus mulai mengubah paradigma masyarakat mengenai arti ‘PETANI’ itu sendiri. Bukanlah suatu pekerjaan yang menjijikkan dan hanya untuk wong ndeso saja, namun merupakan pekerjaan mulia dan bergaji besar. Saia yakin pasti mereka berebut mengisi ‘lowongan’ sebagai petani di daerah masing-masing ;)

maap, yang awal2 tadi maunya di qute, tapi ndak bisa. Tolong di edt ya mas ngadmin

weleeeh, kok durung dihapus tho?

Yup… kelaparan dan kemiskinan adalah ancaman bagi perdamaian, dan petani kita paling dekat dng 2 masalah itu trus petani paling banyak jumlahnya dinegeri ini… trus.. tarik saja kesimpulannnya sendiri

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)



This blog uses the CommentLuv plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.