Reporter Berjilbab Mulai diterima?

Friday, February 29, 2008 11:34
Posted in category Belajar, Perempuan, Pikiranku, Sketsa

Gita Namuri ArifLama, postingan ini berharap nongkrong di blog, tapi apa daya beberapa agenda yang tak ingin kehilangan momentum mendahului kemunculannya. Tak bermaksud menafikan teman bloger non muslim, postingan ini lebih sekadar refleksi pertanyaan di atas kepala saya. Benarkah media televisi “ikhlas” menerima kehadiran reporter berjilbab?

Sependek pengetahuan saya, belum ada media televisi selain trans tv yang mengijinkan reportasenya diisi jilbaber, atau, memang tak ada jilbaber berminat menjadi repoter? Masih terbatasi pengetahuan saya, sepertinya teori komunikasi massa tak mengijinkan jilbaber menjadi reporter resmi? Kurang prestise? Maaf, jika pertanyaan saya dianggap berprasangka buruk.

Isu jilbab yang digulirkan di awal 90-an menemukan momentum puncaknya di pertengahan 90-an. Tak kurang dari peran besar Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab sebagai motor budaya yang juga didukung demonstrasi ke jalan para jilbaber menjadikan massa mulai melirik jilbab bukan sebagai barang yang menakutkan.

Kenapa jilbab menakutkan? Jelas karena identik dengan islam, islam di era 80-an menjadi phobia. Islam sebagai ideologi pembebasan dianggap menakutkan bagi penguasa, baik lokal maupun global. Tapi, di Indonesia, bagi saya, seperti saya duga sebelumnya, bahwa jilbab yang pada mulanya sebagai momentum pejuangan menegakkan syariah pada suatu ketika akan menjadi budaya massa yang seringkali kering makna. Bahkan, pada suatu ketika, ‘kemaksiatan’ akan menjadi barang lumrah berselubung jilbab, begitu kesimpulan diskusi saya dan rekan-rekan saya di penghujung tahun 1999. Ternyata, prediksi kami itu benar adanya. Tak tanggung-tanggung, pornografi yang beredar di internet dengan selubung jilbab bukan barang baru.

Lantas, apa relevansinya dengan reporter berjilbab? Apakah jilbab masih menjadi simbol perjuangan yang layak mendapat apresiasi di atas keangkuhan media? Atau hanya sebuah fenomena biasa di tengah jarangnya reporter berjilbab? Atau mungkin pertanyaannya, masihkah jilbab sebagai simbol perjuangan yang memiliki nilai sakral yang tinggi? Masihkah jilbab sebagai sebuah ancaman?

–ooOoo—

Sekadar informasi, istri saya masih memakai kerudung, tidak ada tendensi apapun terkait tulisan ini kecuali sekadar mempertanyakan kembali makna jilbab.


Updatedbei de wei, mengingat ini dan itu, setelah baca postingan pak sawali dan mas ridu, yang mana saya kebagian PR mengerjakan tugas MLM untuk lebih akrab dengan GPR, maka dengan ini saya putuskan untuk mengerjakan PR tersebut dengan harapan tak ada efek negatif yang muncul akibat citra MLM di dunia nyata. Wakakakaka.. *digampar aktifis MLM*Maka, kali ini saya bersedia menjadi downlinernya pak sawali (salam hormat untuk kyai saya di dunia maya) dan dengan sepenuh hati tapi tak sepenuh kantong berikut ini saya tampilkan upliner saya.. wekekekekekeke… *jadi teringet dipresentasi ama aktifis MLM* Mereka adalah:
  1. Catsy Carpe Diem
  2. Catsy Download
  3. Out of the Blue
  4. A Day to Savor and Relish
  5. A Piece of Idea
  6. Write Shy
  7. Stupid Wise
  8. onlinememorylane
  9. See Me For What You Will
  10. Michelle’s Small World
  11. Chez Francine
  12. Cronaca
  13. Le bric à brac de Cherie
  14. Life
  15. Hanna
  16. AngrianiWorld
  17. Farah
  18. Anoushka
  19. Noushy Syah
  20. Eagle
  21. Dasir
  22. Shirei
  23. Abi Bakar
  24. Rosyidi
  25. Riyogarta / Catatan
  26. Ridu
  27. Sawali Tuhusetya
  28. Gempur Media

Saya mudah2an gak salah, berada di urutan 28, sebagai upliner saya jelas beliaunya pak sawali, sementara downline saya di urutan 29.. Update postingan ini, *latah ikutan kyai saya* sekadar untuk membangun kesetaraan antar bloger yang juga sekaligus menumbuhkan dan melanggengkan rasa hormat saya untuk pak kyai saya. Beliau sudah mengajarkan banyak nilai dan etika terutama dalam dunia pendidikan. Untuk mas ridu, meski anda orang jakarta, saya salut atas kesantunan anda dalam perblogeran. Tulisan anda meski dalam posisi ofensif tapi masih sangat santun. Layak juga menjadi murid pak sawali. Hehehehe….

*bergaya aktifis MLM* hayoooooo, siapa yang mau jadi downline saya? aseli loh! dijamin gak tak ada ruginya. hehehehehehe…. ternyata, ada selentingan di sebelah saya, “itu bukan gaya aktifis MLM, itu gaya penjual obat kuat, mas!” wakakakakakaka…

Akhirnya, wassalamualaikum….. :D

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Wists
  • StumbleUpon
  • Facebook
  • Webride
  • YahooMyWeb
  • Google Bookmarks
  • Live
  • MySpace
  • Technorati
  • Twitter

Related Post:

You can leave a response, or trackback from your own site.

29 Responses to “Reporter Berjilbab Mulai diterima?”

  1. Mbah Sangkil says:

    February 29th, 2008 at 15:31

    yg jadi masalah adalah kesakralan jilbab itu tercoreng oleh segelintir oknum-oknum yg tidak bertanggung jawab.

    1. Aksi anarkis oleh segelintir oknum yg mengatasnamakan agama untuk melakukan tindakan anarkis dan selalu menjadi laporan utama media massa. kasus bom bali mungkin salah satu contohnya.

    2. Makin maraknya film-film dan gambar-gambar yg mempertontonkan adegan kemaksiatan oleh sejumlah oknum dengan [maap] menggunakan jilbab

    3. Pergeseran kesadaran arti dan makna menggunakan Jilbab. Saya berkali-kali melihat wanita memakai Jilbab tapi menggunakan baju ketat dan celana ketat. Ya seperti biasanya cuma bisa geleng-geleng kepala

    dari ketiga hal di atas akhirnya seperti kata pepatah gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga

    Ini sebenarnya yg menjadi tugas Kaum Muslim untuk meluruskan kembali dan mensakralkan arti dan makna memakai jilbab. Mengembalikan kembali niat dan kesadaran memakai jilbab, dan jilbab bukanlah pakaian seperti yg kita pakai sehari-hari, jilbab adalah “pakaian kehormatan”.

    maap kalo ada salah kata, dan ini hanyalah pendapat pribadi saya sendiri

    Mbah Sangkil’s last blog post..Games Online Gratis

    [Reply]

  2. Rere says:

    February 29th, 2008 at 15:37

    Dulu saya liat di Global TV, News Anchor nya pake jilbab, pak. Tapi sekarang dah jarang. Entah kenapa… :)

    [Reply]

  3. Zee says:

    February 29th, 2008 at 16:53

    Sy pernah dengar jg, ada stasiun tv yg tdk mengizinkan reporter berjilbab.
    Jgnkan stasiun tv, kantor2 jg banyak yg begitu. Khusus u/ frontliner biasanya management aga keberatan klo pake jilbaber.
    Semua memang ada penjelasannya, cuma tergantung apakah bisa diterima ato tidak.

    Zee’s last blog post..Rejeki Perut Buncit

    [Reply]

  4. iphan says:

    February 29th, 2008 at 17:22

    sempet dibahas di salah satu kuliah ku tentang jurnalisme tv harus “cantik”. kalo gak salah, salah satunya adalah orang yang didepan kameranya itu. cantik yang utama, kalo otak bisa di isi katanya… jadi cewek berjilbab, asal bisa keliatan memukau,bisa dipake :D

    [Reply]

  5. sawali tuhusetya says:

    February 29th, 2008 at 17:23

    Jilbab? sebenarnya tak ada alasan untuk menolak kehadiran reporter berjilbab, pak gempur. menerima kehadiran mereka sama saja mengakui keberadaan negri kita yang multiagama dan multikultur. kalau masih ada juga gejala phobi terhadap islam, itu artinya mereka masih dilandasi oleh pemikiran primordialisme sempit. makin banyak ikon budaya dan agama, warna keindonesiaan akan makin nyaman dan damai,

    sawali tuhusetya’s last blog post..Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen

    [Reply]

  6. ridu says:

    February 29th, 2008 at 17:31

    sebelum trans TV, di TPI dulu pernah ada kok.. tapi udah gak keliatan lagi..

    Semoga kedepannya tidak ada diskriminasi atas penampilan seperti ini yah pak..

    ridu’s last blog post..Sariawan

    [Reply]

  7. ridhocyber says:

    February 29th, 2008 at 17:47

    malah keliatan cantik lho kalo pake jilbab, beruntung lah kalian yang mimpi jadi reporter tapi rambutnya kribo, segeralah berjilbab biar bisa jadi reporter :D he he he kidding….

    ini salah satu tanda2 demokrasi mulai di tegakan!!!

    merdeka!!!

    ridhocyber’s last blog post..Link Exchanges For Blogger

    [Reply]

  8. suandana says:

    February 29th, 2008 at 23:47

    Sepertinya, masih jadi simbol perjuangan kok, Pak…
    Walaupun sakralnya sudah agak berkurang… :(
    suandana’s last blog post..cerita tentang aku dan dia, bagian 1

    [Reply]

  9. quelopi says:

    March 1st, 2008 at 8:04

    di luar sono perempuan berjilbab selalu dikungkung termasuk di Turki, namun di Indonesia, negera islam, kalau melakukan tindakan yang sama berarti boong-boongan dong

    [Reply]

  10. gempur says:

    March 1st, 2008 at 9:32

    @mbah sangkil:
    polemik jilbab memang lama menjadi pembicaraan bahkan hingga sekarang. di beberapa instansi, seperti kata mbak zee, belum bisa menerima kehadiran simbol agama tersebut. Alasan-alasan yang sampean kemukakan juga rasional dan memenuhi proses desakralisasi jilbab. mungkin juga perjuangan jilbaber sekarang bukan pada upaya mengenakannya, tapi lebih pada menjaga jilbab itu sendiri dari perilaku desakralisasi, juga sebagai simbol perjuangan tersendiri bagi yang mengenakannya..

    @Rere:
    mungkin aja director atau pimrednya tak menghendaki non! :D

    @zee juga utk iphan:
    tuh khan! apa prasangka saya ada benarnya juga.. berarti beberapa teori komunikasi dalam benak para pimred media TV blm khatam atau masih terjerembab sense of islamophoby.. hehehehee…

    @sawali.:
    la nggih pak! berarti yang tak mau menerima reporter berjilbab mereka iu primordial banget yah?! :D atau takut gak laku kali yah?! hahahaha…

    @ridu:
    iya dulu, tapi skrg tumbang khan?!

    @ridhocyber:
    wakakakakakakak.. itulah jilbab, salah satunya bikin orang penasaran.. siapa sih dibaliknya?

    @suandana:
    jadi pengen ketawa sendiri.. sakral itu harus menghilang? seperti deksakralisasi agama yang mengalami degradasi habis2an..

    @quelopi:
    indonesia bukan negara islam bung! jadi wajar kalo reporter dilarang berjilbab.. hehehehe…
    yang negara islam itu brunei, malasysia dll.. indonesia negara demokrasi, tak ada negara agama.. hanya spiritnya yang berlandaskan agama.. hehehehe…

    gempur’s last blog post..Reporter Berjilbab Mulai diterima?

    [Reply]

  11. tomy says:

    March 1st, 2008 at 11:10

    asal segala macam atribut & simbol tak diletakkan lebih tinggi daripada pemaknaan Hidup tidaklah menjadi masalah. maslahnya ketika simbol & atribut malah mencerabut manusia dari hidupnya sendiri, memenjara manusia dalam berbagai macam identitas semu lalu dijadikan ‘pembeda’ antara manusia satu dg manusia lain

    tomy’s last blog post..MERINGKUS TUHAN

    [Reply]

  12. gempur says:

    March 1st, 2008 at 11:23

    @Tomy:
    Itulah, pak! yang saya pertanyakan adalah akhir dari itu semua, “Makna”, “Spirit” yang terkandung di dalamnya.. jangan-jangan kita terjebak pada simbol dan tak bisa kluar darinya.. melupakan esensi..

    [Reply]

  13. aziz says:

    March 1st, 2008 at 13:08

    jilbab bisa bikin orang makin keliatan cantik…..

    aziz’s last blog post..MALEM KESENIAN SKULKU=BASAH

    [Reply]

  14. magma says:

    March 1st, 2008 at 14:20

    jilbab? kenapa nggak? gak jaman sekarang orang yang masi nglarang pake jilbab. tapi ada juga yang menyalahgunakan jilbab.

    *bingung… .*

    magma’s last blog post..KONTROVERSI PILEM AYAT2 CINTA

    [Reply]

  15. Edi Psw says:

    March 1st, 2008 at 14:36

    Selamat untuk trans tv nih. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk trans tv. Stasiun tv lain kapan ya mau nyusul?

    Edi Psw’s last blog post..Antara “det” dengan “dEEt”

    [Reply]

  16. Nazieb says:

    March 1st, 2008 at 16:09

    Setahu saya biasanya juga gitu, pada pake jilbab / kerudung..

    tapi pas hari besar islam sajah
    :mrgreen:

    [Reply]

  17. sawali tuhusetya says:

    March 1st, 2008 at 17:56

    wew… kok pakek istilah kyai, pak gempur, hiks… jadi nggak kuat, pak. jangan berlebihan, dong, pak, saya juga banyak berguru sama pak gempur, terutama dari sisi jiwa “pembenrontak” dan kebebasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. *menjura hormat sama pak gempur* btw, makasih, pak gempur link-nya, langkah ini seperti yang pak gempur sampaikan untuk menjalin silaturahmi dg sesama bloger. saya pikir kok jauh beda dg MLM di dunia nyata yang memang saya sendiri kurang begitu cocok. *halah*

    sawali tuhusetya’s last blog post..Roy Suryo, Bloger, dan Sikap Hipokrit

    [Reply]

  18. ridu says:

    March 1st, 2008 at 19:07

    makasiiih banget untuk pak gempur, blog saya isinya memang tidak bermanfaat untuk orang lain, tapi saya sangat menjunjung tinggi rasa kebebasan setiap orang untuk berekspresi terutama di blognya..

    selain dengan pak sawali, saya juga mendapat banyak pelajaran dari pak gempur ini, jadi boleh donk saya jadi murid bapak juga (*semoga saya pantas menjadi muridmu pak*) heheh…

    saya juga mencoba menghargai orang lain dengan mengerjakan PR ini, selain juga bisa menambah silaturahmi, ini juga merupakan wujud apresiasi kita terhadap orang lain. Makasih ya pak :)
    ridu’s last blog post..29 Februari 2008

    [Reply]

  19. Totok Sugianto says:

    March 1st, 2008 at 19:59

    semakin hari mungkin kebebasa berjilbab di media televisi mulai dipertimbangkan, bahkan untuk merebut hati pemirsa yg kebanyakan muslim maka reporter berjilbab seharusnya tetap dipertahankan bahkan kalau bisa dihimbau selain kelihatan lebih santun juga terlihat cantik, bukan begitu mas ghofur? :D
    Totok Sugianto’s last blog post..Ponsel Cina, Mau?

    [Reply]

  20. aRuL says:

    March 2nd, 2008 at 13:13

    fenomena reporter berjilbab, memang ada beberapa stasiun TV nasional masih memberlakukan tidak menerima reporter yang berjilbab, itu penuturan teman saya yang mengikuti seleksi reporter di beberapa stasiun TV. Tapi ada juga yang sudah menerimanya.
    trans TV dan lativi (skrg TV one) yang kayaknya sudah menggunakannya.

    aRuL’s last blog post..Bahasa Wotu dan Eksistensinya

    [Reply]

  21. Dony says:

    March 2nd, 2008 at 16:00

    Sandria Malakiano terpaksa cabut dari Metro TV gara2 dia pake jilbab. Yang belum ada itu mungkin Polwan berjilbab

    Dony’s last blog post..Tren Koran Edisi Siang

    [Reply]

  22. det says:

    March 3rd, 2008 at 6:50

    wanita sempurna: cantik, cerdas, akhlak mulia, sehat jiwa raga, kaya raya, berjilbab!

    det’s last blog post..Prinsip PNS: GPGS

    [Reply]

  23. doni says:

    March 8th, 2008 at 18:53

    Pak maaf ya kalo kata2 saya di comment ini salah tapi Nabi Muhammad S.A.W kan menganjurkan agar seluruh kaum wanita ( terutama muslim ) agar menyulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka so mengapa jilbab itu menakutkan.

    doni’s last blog post..Antara Legenda Or Anime ???

    [Reply]

  24. Angki says:

    March 9th, 2008 at 18:46

    Andai Rere jadi penyiar pojok Kampret TVJ… :roll:


    @Angki:
    *berharap Rere Mau ke sini dan membaca komentar angki*
    Rereeeeeee… ke sinio kamu… angki nawarin kamu jadi reporter di TVJ loh! Mau gak?! :D
    Angki’s last blog post..Sekali Lagi (Ipang BIP-2007)

    [Reply]

  25. aceh says:

    June 10th, 2008 at 17:46

    wah kalo di aceh, tv nya malah mewajibkan berjilbab baik reporter ataupun penyiarnya. kalo ngak dipecat!!!

    [Reply]

  26. Shalahuddin UGM, Jilbab dan Indonesia at Ekonofisika - Rachmad Resmiyanto says:

    September 15th, 2008 at 5:42

    [...] Isu jilbab yang digulirkan di awal 90-an menemukan momentum puncaknya di pertengahan 90-an. Tak kurang dari peran besar Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab sebagai motor budaya yang juga didukung demonstrasi ke jalan para jilbaber menjadikan massa mulai melirik jilbab bukan sebagai barang yang menakutkan. http://aghofur.com/reporter-berjilbab-mulai-diterima.html [...]

  27. Shalahuddin UGM, Jilbab dan Indonesia - Ekonofisika - Rachmad Resmiyanto says:

    October 14th, 2008 at 21:21

    [...] Isu jilbab yang digulirkan di awal 90-an menemukan momentum puncaknya di pertengahan 90-an. Tak kurang dari peran besar Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab sebagai motor budaya yang juga didukung demonstrasi ke jalan para jilbaber menjadikan massa mulai melirik jilbab bukan sebagai barang yang menakutkan. http://aghofur.com/reporter-berjilbab-mulai-diterima.html [...]

  28. widi says:

    October 23rd, 2008 at 16:17

    alhamdulillah, saya adalah satu di antara sekian banyak reporter berjilbab yang tetap eksis. Meski media umum, media tempat saya bekerja tak pernah mempermasalahkan kita berjilbab atau tidak, yang penting kita kerja secara profesional…Artinya, kalau jam 1 malam harus liputan ya gak bisa kemudian menolak hanya karena saya berjilbab…

    [Reply]

  29. Anang says:

    April 16th, 2009 at 10:05

    i love the jilbaber.. they look so …. ehm ehm.. sorry, i cant tell ya…..

    Anang’s last blog post..Pasarku Pasarmu

    [Reply]

Leave a Reply

CommentLuv Enabled