Segelas Es Cappucino untuk Rakyat

[updated version] 

Sore itu, di sebuah Mall di bilangan Surabaya Pusat, usai membicarakan rencana kumpul-kumpul blogger Surabaya, pembicaraan saya dengan mas anangku dan mas Dion serta mas avy tiba-tiba berubah haluan. Dari masalah kelangkaan kedelai bergeser membicarakan pemerintahan rezim ORBA.

Ah, jadi sok pemikir berat, mengutip topik artikel mas STR berkaitan dengan mental tempe, juga mengutip tulisan mas iman brotoseno, saya ndongeng pencekalan para aktifis menjelang orde reformasi. Bahwa kemajuan Indonesia yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, hanyalah pertumbuhan semu.

Ditemani enam batang rokok dan segelas cappucino, saya keukeuh mempertahankan pendapat saya bahwa kenyamanan di era soeharto mengandung bahaya laten luar biasa di kemudian hari. Mau tak mau saya ceritakan pada mereka penderitaan rakyat dan pemiskinan luar biasa yang mencekik petani akibat revolusi hijau.

Alunan masa lalu beraktifitas di kampus biru melayang-layang di atas kepala. Hamparan batu cadas yang tak menghasilkan janji kemakmuran menghantarkan penduduknya bermigrasi ke luar negeri menjadi PRT, TKI dan TKW tanpa skill yang berpulang ke kampungnya dengan segala cerita senang dan getirnya hidup mengingatkan kembali keseharian saya bersama mereka dalam beberapa waktu.

Beberapa waktu juga pernah saya lalui bersama sebuah kampung yang memungut batu kali dan menjadikannya batu kerikil untuk bahan cor-coran mengingat tak ada lahan lagi yang bisa dimanfaatkan. Tak ada lagi yang bisa diolah dan dijadikan sumber uang.

Ah, semua telah berlalu, mereka masih dalam kebingungan melanjutkan hidup dengan batu kerikil atau tidak, saya tak tahu.

Kini, saya duduk di sebuah kafe bergaya orang berduit dengan segelas cappucino yang setara 20 keranjang batu kerikil yang bisa didapat dengan kerja seharian penuh oleh mereka, saya bicara tentang rakyat, saya bicara tentang penderitaan mereka. Saya bicara seperti seorang orator besar yang memaparkan ide besar tentang sebuah negara yang baik sekaligus utopia.

Ah, dasar saya yang pecundang! Bicara proletar, berpikir proletar, tapi perut tetap borjuis dan kapitalis.

Kepadamu rakyat, maafkan saya!

—***—

Tulisan ini tak hendak membuat saya kehilangan keikhlasan berbicara dengan sahabat-sahabat saya. Tak hendak menyesali pertemuan saya dengan mereka. Sama sekali tidak. Artikel ini disemangati ‘menggempur’ diri saya sendiri sebagaimana sudah saya canangkan sejak awal tahun baru, bahwa tahun ini akan lebih saya fokuskan untuk ‘menggempur’ diri sendiri ketimbang menggempur orang lain. Artikel ini hanyalah ‘pengakuan dosa’ saya.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • blinkbits
  • BlinkList
  • blogmarks
  • BlogMemes
  • Netscape
  • Webride
  • LinkaGoGo
  • Spurl

Artikel terkait:

Jika anda tertarik silakan tinggalkan komentar or subscribe feed dapatkan artikel mendatang blog ini melalui email.



Comments

ironis ? nggak juga…
Bagaimanapun sebuah pemikiran perbaikan untuk bangsanya tidak melulu harus bersimbol proletar.
Dulu sewaktu tahun 1998 ketika mahasiswa nginep di DPR serta bersemangat menurunkan rezim, mereka mendapat sumbangan makanan nasi box KFC, padang, air mineral aqua. he he tidak ada yang salah dengan sebuah brand kemakmuran.
Jaman memang berubah. Kalau dari sebuah cafe capucino bisa dilahirkan gagasan yang brilian, kenapa tidak.

iman brotoseno’s last blog post..Kiai Sadrach

rakyat, saya sendiri masih ragu, apakah kerja yang saya lakukan selama ini juga ada kaitannya dengan upaya untuk menyejahterakan dan memakmurkan rakyat? gimana ndak ragu, pak, lha wong orang2 elite yang suka nongkrong di istana itu udah demikian lantang suaranya mengklaim diri sebagai wakil rakyat, eeee kita yang terjun sebagai pendidik, ndak pernah muncul suaranya juga. ketika terjadi suksesi kepemimpinan, rakyat berharap rezim baru bisa eksis menjadikan rakyat sbg subjek, bukan sbg objek. kalo pak gempur kebetulan melakukan survei kecil2 ke kalangan masy. bawah, sesekali tanya pak, enak mana hidup di orde reformasi dan eraerba warisannya pak harto. saya punya keyakinan, mereka senang hidup spt pada era orba. meski pertumbuhan ekonomi semu, tapi mereka ndak mau tahu itu. nyang penting harga kebutuhan pokok bisa terjangkau. rakyat, ternyata sangat simple dan praktis pola berpikirnya. ndak perlu teori muluk2 spt wakil2 mereka yang di senayan itu

sawali tuhusetya’s last blog post..Memburu Cinta yang Hilang di Rimba Sastra

@Iman Brotoseno: iya.. iya.. setidaknya kini saya sudah tak terlalu gelisah lagi karena ada pembelaan sedikit dari mas Iman.. matur nuwun mas!

@Sawali: Jawab rakyat, “peduli setan siapa yang mimpin, yang penting kami kenyang!” hehehehehehe… mudah2an sepuluh tahun ke depan.. rakyat bisa kenyang lagi… Amin..

Jangan tanya saya soal wakil rakyat, saya tak punya ambisi apalgi interest dengan mereka.. biarlah mereka bekerja saya juga bekerja dengan cara saya… mari giat bekerja membangun bangsa..

* :D * jadi inget…
pernah juga membicarakan kemiskinan di sebuah hotel…
untung pembawa acaranya sadar…
ironi ya Pak…

Goop’s last blog post..Gerak

Saya mingkem aja lah.

Di balik layar monitor, ratusan kilometer dari njenengan, STR ini cuma seorang pemuda, yang isi kepalanya komunis, perutnya kapitalis, dan bawah perut adalah liberalis.

Yang tersisa tinggal kaki dan tangan saya. Semoga tidak menjadi apa-apa, selain berkat buat orang lain.

STR’s last blog post..Bahwasanya Hari Ini

Walah.. Apa yg ditanyakan Pak Sawali ini persis dg apa yg sy ajukan ke Pak Gempur. Ndak perlu tanya ke masyarakat lg, tiap kali nongkrong di warung kopi, selalu aja ada yg nyeletuk lebih enak jaman suharto.

Lha??!!

Sy ndak sepakat kalo masyarakat dianggap gak peduli dipimpin siapa, yg penting perut kenyang. Buktinya Gus Dur terjungkal di tengah jalan? Buktinya Amien Rais dan Megawati gagal jd presiden pemilu kmrn?

Konspirasi???

Skenario global???

Penjajahan terselubung???

Ah.. Terlalu rumit utk diuraikan, apalagi diadu dg solusi, mungkin perlu seribu gelas kapucino lagi..

deteks’s last blog post..Rahma Azhari: iseng berhadiah anak

kenyamanan masa lalulah itu yang menyebabkan sebagian kesusahan sekarang ini…

@Goop: Jadi teringat teriakan Cak Nun, kemiskinan kok diseminarkan di hotel, mbok langsung di tengah rakyat gitu.. heheehehehe.. jadi kenah deh sayah.. ;-)

@STR: ya, mudah2an tangan yang tersisa ini untuk orang lain.. teringat adik saya yang kini tengah kuliah di isipol UGM, dengan lantangnya teriak tolak kapitalis, giliran mo lebaran beli bajunya di mall dengan merek papan atas.. saya hanya bisa ketawa.. hehehehe

@Deteksi: yup, kita butuh 1000 gelas kopi lagi, bukan cappucino hahahahahaha.. kita lanjutkan offline ya?! Mau gak?!

@Isnuansa: hahahahaha, oalah mbakyuuuu mbakyuuuu, sampean ini yang partainya tertindaas di masa lalu sekarang berjaya nih yeeee… untungnya gak balas dendam.. hahahahahaha

Halah..halah…

Apa sih yg diharapkan bagi Kawulo ALIT..??. Beras murah, sembako murah…bisa makan GEMBUL sak keluarga. Cuman itu thok gak ada lain-lainnya to Cak Gempur.
Klu ada yg bilang jaman Soeharto enak…lah buat aku sekeluarga..?? Bapak cuman pensiunan Sersan AD yang badannya boncel-boncel ketembus peluru Kemerdekaan…demi negeri ini.
Saban hari makan Nasi Singkong, Lauknya Begedel Singkong, sayure godhong Singkong..lah..lah wis jan gak ada yg dibuang sama sekali, selain ampas yg keluar dari perut ini….

Halah..halah…Wedhud Gibas kalah cepet rebutan Godhong Singkong..untug gak di Tumbruk cak..cak…
mbalyuuuuuu…diuber-uber Wedhus…..

SATRI GUNDHUL’s last blog post..SEMEDI, DZIKIR, MEDITASI dan KONTEMPLASI

@Santri Gundhul: hahahahahahaha.. yang terkahir itu yang bikin saya tertawa.. Ehmmmmm.. *bernapas panjang dahulu*, ikut merasakan keprihatinan apa yang njenengan alami bersama keluarga.. sebuah gambaran kongkrit..

Bahwa, dari sejak dulu, keluarga saya sibuk berantem dan berebut sesuap makanan. Saling mencuri di kala kesempatan ada dan berlomba berwajah manis di kala kesempatan bertemu muka. Semua untuk satu hal, kenyangnya perut..

Lembaga yg mengatasnamakan rakyat aja malah menjadi lembaga yg menyedot darah rakyat. Disaat rakyat banyak yg menderita karena musibah, sang wakil rakyat malah berpikir soal mobil dinas dan tunjangan yg “katanya” kurang dan bisa menghambat penyampaian aspirasi rakyat. Disaat rakyat menanti dengan penuh harap karena perutnya minta diisi setelah 2 hari gak makan akibat banjir dan tanah longsor, sang penguasa malah mengajukan anggaran perumahan dan lauk pauk yg katanya sudah gak sesuai dengan harga barang2 yg mulai naik. Tapi herannya Kemana Para wakil rakyat ketika harta karun dan kekayaan alam ini dirampok oleh kapitalis asing? Kemana mereka ketika Hak rakyat dirampas oleh orang lain?

Miris memang melihat yg terjadi di negara ini, Rakyat sudah menjadi sebuah produk yg bisa dijual demi kepentingan segelintir orang. Produk yg bermerk “Rakyat” laris menjadi dagangan yg menghasilkan uang yg berlimpah.

“Dari Rakyat. Oleh Rakyat, dan Untuk [segelintir] Rakyat”

gandhi’s last blog post..Venus dan Cinta

@Gandhi: Ah, ada apa dengan kita ya? Jangan-jangan memang kita harus melakukan revolusi seperti yang sedang digagas secara sporadis dan selewat pintas serta tampil malu-malu..

Memang selayaknya saya harus mulai menerima kenyataan yang saya hadapi bahwa saya seorang utopis dengan mengangankan kesejahteraan dan kemakmuran yang pantas untuk seluruh wilayah Indonesia..

Mungkin saya harus menyerah pada fakta bahwa saya kini sudah mulai bosan dengan sosialisme, teologi pembebasan dan kiri Islam..

Bahwa saya harus menyatakan diri menjadi kaum hedonis, berpaham kemajuan dan konsumeris dengan angan-angan menjadi borjuis..

ah, sudahlah, mari berdo’a saja..

seperti yg pernah saya bahas bersama Musisi Mbeling, MUsti ada perubahan Pada bangsa ini. Siapa yg Harus Merubah? Ya bangsa ini sendiri, mulai dari pemerintahan sampai rakyat, Termasuk kita2 disini. kalo bangsa Ini tetap seperti ini dan tidak ada perubahan, makin beratlah Tugas Presiden terpilih 2009 nanti. Tugas Presiden adalah mencari lahan untuk menguburkan rakyatnya

Kita jgn menyerah Pak Gempur, Perjuangan tidak perlu harus dilakukan sesaat dan sporadis seperti Perang Kurusetra, Tapi bisa dilakukan dengan cara2 yg lebih manis. Berjuang dengan keahlian dan profesi kita

Lho tulisan Pak Gempur sudah termasuk perjuangan kok, Paling gak, ada yg membaca dan mengerti maknanya, sukur2 ada yg sepakat dengan tulisan Pak Gempur dan akhirnya timbul keinginan untuk memikirkan indonsyah ini. Daripada kita cuma memendamnya dalam hati dan sesekali menghela napas panjang sambil berkata “inikah indonesyah ku?”

gandhi’s last blog post..Venus dan Cinta

Aneh memang kemiskinan justru menjadi komoditi yang paling ampuh untuk mencapai hasrat kekuasaan, kepedulian lewat kata-kata jauh lebih terdengar dibandingkan uluran tangan nyata terhadap sesama.
Mudah-mudahan kesadaran seperti Mas Ghofur juga dimiliki oleh para penguasa kita, hingga kemiskinan tak hanya diseminarkan apalagi dengan biaya yang bisa bikin warga satu kampung kenyang. Apalah artinya secangkir capucino, hahaha.

@Gandhi: Amin Allahumma Amin.. Oke mas, saya akan bersemangat terus.. Mudah2an tetap diberi kekuatan untuk ikut serta membumikan utopia saya

@Hadi Arr: Ah, bapak bisa aja! kemiskinan tetep perlu digagas dalam bentuk seminar kok.. biar kualitas kelimuan para pembahasnya terakui dan tervalidasi.. meski kualitas kepekaan entah menjadi yang nomor ke berapa.. hehehehe…

Wah maap sebenernya masih pengen mendengarkan sampeyan bercerita, dan menambah minum merasakan kehangatan teh. Tetapi beribu sayang, saya harus menjenguk counter steh saya di darmo trade center. maklum tutup jam 19.30. So kudu cepeta-cepetan. emang sampe jam berapa?
Kalo saya berjuang dari sisi entrepreneur aja deh hehehehe

Supermoto’s last blog post..POWER WORKSHOP E.D.A.N.

*kontrol warga*
:mrgreen:
antarˆpulau’s last blog post..Pisi dan misih blog antarˆpulau (bagian II)

bahwa kenyamanan di era soeharto mengandung bahaya laten luar biasa di kemudian hari.

Kenyamanan yg seperti apa ya ini?? Ndak mudeng… :D
adit-nya niez’s last blog post..Si Mata dan si Hati

Menurut saya lebih nyaman ketika Soeharti jadi Presiden, harga murah, ekonomi stabil, kita swasembada pangan, coba kalau sekarang, katanya negara agraris tapi masih mengimpor produk pangan. Apakah itu juga imbas dari “masa itu”? hehehe

awan965’s last blog post..Selamat Ulang Tahun ke-32 bagi SMA Kosgoro Kuningan

Berkaitan dengan tulisan Makna Pembebasan, Coba 32 th kalo orang sejak lahir sampai dewasa sudah jadi profesor. Inilah hasil dari pendidikan yang 32 tahun itu, selama ini kita memang dibikin ’bodoh’ dalam arti kemerdekaan & kemandirian.
Kita terlalu lama dininabobokan dg kenyamanan2 yang sebenarnya adalah belenggu bagi kedewasaan kita sebagai bangsa.
Jadi jangan salah kalo rakyat (entah rakyat yg mana) lebih memilih kenyamanan hidup di era Orba.
Mbah buyut malah mengatakan kalo era keadilan itu waktu jaman penjajahan Belanda, semua serba tertib, ada kepastian hukum, nggak pernah ada teroris ngebom orang seenaknya.
Tapi sudahlah, daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan sebatang lilin, begitu Engkong saya bilang.
Tulisan-tulisan yang jenius dari Pak Guru semoga terus lahir sebagai kaca benggala atau refleksi bagi kita semua & sebagai obor penyadaran akan siapa sesungguhnya diri kita ini.

Jika kita berbicara tentang rakyat, tak akan ada habis-habisnya, Mas! apalagi menyangkut urusan perut. Jangankan rokok yang tinggal enam batang, enam slop pun tidak mampu menyelesaikan (baca: beradu argumen). Wis ta lah, Mas! Yang penting kita mulai dari diri kita sendiri, bertanya pada hati kita apakah yang kita inginkan. Perubahan atau penghancuran?
Wah,

wah, jangankan orang kecil pak. ibu saya aja (yang juga orang kecil) sudah siap mnyiapkan bendera setengah tiang untuk pak harto yang mau “lewat” akhir2 ini. dalam artian ibu saya masi menghormati bapak yang satu ini, yang telah membangun “kesemuan” bangsa ini.

tapi lucu juga melihat pengakuan pak gempur. diskusi tentang proletar di tempat borjuis. tapi sah2 aja kok pak yang penting bayar kappucinonya (bener g tulisannya?)

dan saya sepakat dengan anda soal kenyamanan saat soeharto akan mengandung bahaya dikemudian hari. dan terbukti sekarang. jaman ini tak terlepas dari soeharto. kemakmuran semu kita itu tak terlepas dari hutang2 yang menumpuk demi membuai kita(baca:rakyat). dan akhirnya saat inilah saat dimana kita membayar hutang2 masa lalu.

lain kali klo diskusi ajak2 pak. saya mau tau diskusi2 seperti itu. tapi jangan di tempat yang bapak sebutkan diatas. ndak mampu saya. di warung kopi aja. sekalian mendengarkan suara rakyat kecil.hehehe… .

Setuju banget sama yang dibilang mas iman di komen pertama. Kalo kamu orang kaya dan bisa ngebantu orang2 susah dengan arang2 bagus, kenapa nggak? dan siapa tau make hal2 yg non proletar itu lebih efisien dan efektif, betull..?!

titiw’s last blog post..Belah Duren dan Kawan-kawannya

sampeyan ikut partai apa bos..???
saya tak NYOBLOS sampeyan..!!!!!

Revolusi!!!

Tapi, nanti juga akan makan korban dari rakyat itu sendiri… :(

Ah, jadi bingung!!!

suandana’s last blog post..ugh…

@Supermoto: Oke deh mas, ntar kita lanjut diskusinya kalo ketemuan lagi, ternyata nge-blog nambah teman dan persaudaraan, kita bisa tuker pikiran laen waktu.. kemarin sampe jam 18.00

@antarpulau: silakan dikontrol, aman kok :D

@Praditya: hehehe.. nggak mudeng apa pura-pura nggak mudeng?

@awan965: ya pak! imbas masa lalu, revolusi hijau telah mematikan kreatifitas petani Indonesia yang sejak dulu terkenal dengan ketahanan pangannya, hanya karena tanam paksa jaman belanda trus penyeragaman pola makan yang kudu nasi ke mereka yang makan pokoknya jagung dan sagu menjadikan petani kehilangan kemerdekaan pola tanam.. dan masih banyak lagi imbasnya..

@Tomy: Nggih, pak tomy, mari kita nyalakan lilin-lilin pemikiran kita menghalau gelapnya malam pemikiran dan mari songsong masa depan lebih baik lagi..

@Yustinus: Ya pak! saya juga belajar untuk menjadi rakyat yang baik, itulah kenapa saya milih terjerumus ke dunia pendidikan, hanya ingin menjadi rakyat yang baik.. hehehehe

@Ma6ma: lain kali kita diskusi offline ajah.. la sampean kalo pas lagi kopdar gak pernah nongol sih! hehehehehehe

@titiw: ya, sepakat juga dengan mas iman, berkat beliau saya agak tenang sekarang.. ;-)

@Escoret: saya ikut partai bloger Indonesia saja… hahahahaha

@Suandana: Revolusi, juga tak menghasilkan perbaikan yang kaffah kok pak! hehehehehe.. mending evolusi aja.. atau percepatan pembusukan sistem agar segera tercipta sistem yang lebih baru dan lebih baik tentunya.. hehehehehe

gempur’s last blog post..Segelas Es Cappucino untuk Rakyat

Njenengan kok terlalu mikir, Cak Cak … :lol:
STR [untuk update]’s last blog post..UKSW GoBlog! atau Malas?

dilema ya pak..
katakanlah kita kopdar ,sementara masih banyak rakyat yang ingin didengar suaranya oleh kalangan atas, pejabat..

andi bagus’s last blog post..Indonesian Idle

@STR: Siapa juga yang mikir .. la wong nulis di atas kayak buang sampah kok.. hahahahahahahaha

@andi bagus: kopdar tetaplah kopdar, jalani aja sesuai selera masing-masing, di mana aja, asal sesuai kantong, hanya masalahnya, jangan terlalu muluk2 idealis sok mikirin rakyat..

gempur’s last blog post..Segelas Es Cappucino untuk Rakyat

Wah tulisannya berat banget, aku rada binun Pak ^o^

Saya bantu rakyat dengan sticker aja

“Saya Blogger Pro Rakyat”

Si Pembuat Sticker’s last blog post..Sayur dan Pria

@Lisan: Gak usah bingung non! nikmati aja liburannya.. hehehehe

@Si Pembuat Sticker: Oke deh! ntar saya minta ya! hehehehe

gempur’s last blog post..Segelas Es Cappucino untuk Rakyat

cak protes.. kenapa blog ini susah diakses dari opera mini….. nyebelin deh

Anang’s last blog post..Pemimpin Bangsa

@anang: Opera sampean sing rusak! tak akses pake PDA gak ada masalah tuh! hahahahahaha… oke deh, coba tak lagi entar..

gempur’s last blog post..Segelas Es Cappucino untuk Rakyat

wah pemikir ternyata!
ndak usah terlalu dipikirin cak! biarpun kita teriak sekencang apapun tidak akan terdengar jeritan, saran, kritik kita terhadap keadaan bangsa ini

nico kurnianto’s last blog post..ROMBAK PSSI!

jadi sampai hari ini bangsa tempe ini masih belum bisa makan tempe ya ?

Hedwig™’s last blog post..Apakah masih perlu membayar untuk sebuah ringtone

serius banget, Mas. Jadi mengaca nih. Saya gayanya borjuis tapi apa daya gajine proletar.

la mendol’s last blog post..SATE KUDA : MAKE U HOT

@Niko kurnianto: iyo yo, gak usah dipikir lak enak.. hahahaha…

@Hedwig: tempenya sih masih, cuman langka doang.. hehehe..

@la mendol: isok ae sampean.. bukannya yang proletar itu saya.. hahahahaha

gempur’s last blog post..Segelas Es Cappucino untuk Rakyat

wedew..postingan ini dengan sukses membuat kegemaran saya akan frapucinno javachipnya starbucks turun ke level 0￿ celcius..gimana bisa menikmati jika hrs digunakan pembanding seperti ini..huhuhu..

gak bisa komentar juga, lha wong saya sendiri juga masih perlu dibela kok, sesama rakyat juga gitu lho :D
Totok Sugianto’s last blog post..Penggemar Marvel Legends

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)



This blog uses the CommentLuv plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.