Untuk Raka


Disclaimer: postingan murni dari kusutnya hati dan pikiran. Mohon untuk tidak disalahmengerti. Maaf, untuk kawan-kawan bahwa saya belum bisa beraktifitas penuh membalas tegur sapa yang panjenengan berikan. Sekali lagi maaf.

Raka Penyandang Gizi Buruk

Senyummu siang itu bagai telaga

Kucanda engkau dalam perih yang kau tahan

Ingin kuhamburkan kata agar engkau tak merasa sakitnya derita

tapi, engkau lebih tegar dari yang kusangka

Maafkan bila kusapa engkau dalam perihnya duka yang kau sandang

dan aku yang sok heroik datang seperti pahlawan yang memang kesiangan

Maaf, Raka!

Bila hadirku hanya menambah nestapa …

Juga tak berarti apa-apa…

Pasien Gizi Buruk: 3 Meninggal 11 Dirawat

Sampai dengan 3 april kemarin, jumlah pasien yang diterima oleh RS. Soewandhi milik Pemerintah Kota Surabaya 92 orang dengan pasien terbanyak balita sebanyak 52 dan dewasa 40 orang. Jumlah tersebut akumulasi selama 3 bulan dari Januari hingga Maret. Pasien tertinggi bulan Maret menyentuh angka 27 balita dengan korban meninggal sebanyak 3 orang. Berita selengkapnya di sini.

Menyikapi itu, TPC [komunitas bloger surabaya] akan melakukan aksi sosial secara berkala setiap bulan untuk membantu mereka yang ditimpa gizi buruk. Menurut humas RS. Soewandhi, pasien untuk tahun ini dipastikan masih akan bertambah. Sehingga rapat singkat beberapa kru TPC memutuskan untuk melaksanakan aksi secara berkala dan tidak satu kali selesai. Berita selanjutnya menyusul.

Aksi pertama insya Allah akan dilakukan pada hari sabtu dan minggu tanggal 12-13 April 2008 di lokasi langsung keluarga penderita gizi buruk.

Surat Cinta untuk Rasul

Muhammad RasulullahKepadamu Rasul, ijinkan aku menuliskan sepucuk surat dari galaunya hati dan compang-campingnya keimanan serta rendahnya derajat kecintaanku pada-Nya

Rasulullah, sebagaimana kudengar dari para penutur kisah tentang sejarah kehidupanmu, satu yang selalu membuatku rindu dan tetap mencoba dengan keras mencintaimu, mengikutimu, menuruti ajaranmu dengan kebengalanku, engkau mencintai LAPAR.

Rasulullah, begitupun kudengar dari para pemimpin agama serta para orientalis, kuasamu yang menyatukan jazirah Arabia tak menjadikanmu memilih singgasana bertahta emas dan permata atau istana megah nan mulia berdiri kokoh di atas keringat budak. Satu yang selalu membuatku menangis pilu, engkau memilih KEMISKINAN sebagai jubah kebesaranmu.

Rasulullah, izinkan aku menemukan cintaku padamu dalam LAPAR dan KEMISIKINAN, agar ia tak menjadi bencana berujung kematian, agar ia menjadi jalan terang diriku menemukan-Nya.

(more…)

Berkabung

Sore ini aku berkabung untukmu saudaraku, perempuan dalam berita sore yang mati kelaparan di belahan terpencil makasar.

Saudaraku, entah apa yang menimpamu hingga kau tak makan tiga hari di tengah kehamilanmu yang menua. Sementara bayi kecilmu lainnya sekarat. Kata medis kalian menderita gizi buruk, tapi aku katakan kalian kelaparan!

Saudaraku, aku minta maaf jika diamku, keacuhanku, ketakmautahuanku, ketakpedulianku membuatmu terkulai lemas menyongsong ajal.

Saudaraku, sungguh, kematianmu yang mengenaskan, menjadikanku muak tak terkatakan pada mereka yang seharusnya mampu menyelamatkanmu dari lilitan lapar. Amarah dan kebencianku memuncak sampai di ubun-ubun pada mereka yang seharusnya berkewajiban membuatmu kenyang namun justru menimbunnya untuk perut mereka yang sejatinya tak akan pernah terhenti sampai jutaan perempuan dan bayi seperti kalian terkulai lemas tanpa tenaga dan akhirnya tanpa nafas.

Saudaraku, derai air mataku di sajadah yang basah di penghujung senja, tak akan pernah mampu menggagalkan maut yang telah menjemputmu. Aku sadar saudaraku, tangisku hanya sesaat yang setelah itu berganti gelak tawa dan canda dan kembali dalam keacuhan.

Saudaraku, maafkan aku, hanya untai kata yang bisa kutuliskan. Juga sebaris doa agar engkau menjadi syahidah.

Kuharap, Umar bin Khaththab mendatangimu di alam sana, memanggul sekarung beras dan mengetuk pintumu, mengenyangkan kelaparanmu.

–ooOoo–

Dan…

Biarkan sejenak aku tenggelam dalam duka…

Menggunungkan kebencian dan amarah…

Pada penguasa durjana yang tak mau mengenyangkan perut rakyatnya…

–ooOoo–