Reporter Berjilbab Mulai diterima?

Gita Namuri ArifLama, postingan ini berharap nongkrong di blog, tapi apa daya beberapa agenda yang tak ingin kehilangan momentum mendahului kemunculannya. Tak bermaksud menafikan teman bloger non muslim, postingan ini lebih sekadar refleksi pertanyaan di atas kepala saya. Benarkah media televisi “ikhlas” menerima kehadiran reporter berjilbab?

Sependek pengetahuan saya, belum ada media televisi selain trans tv yang mengijinkan reportasenya diisi jilbaber, atau, memang tak ada jilbaber berminat menjadi repoter? Masih terbatasi pengetahuan saya, sepertinya teori komunikasi massa tak mengijinkan jilbaber menjadi reporter resmi? Kurang prestise? Maaf, jika pertanyaan saya dianggap berprasangka buruk.

Isu jilbab yang digulirkan di awal 90-an menemukan momentum puncaknya di pertengahan 90-an. Tak kurang dari peran besar Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab sebagai motor budaya yang juga didukung demonstrasi ke jalan para jilbaber menjadikan massa mulai melirik jilbab bukan sebagai barang yang menakutkan.

(more…)