About May in My Mind
About May
Mei dalam sepanjang pengamatan saya memiliki banyak nilai historis yang lebih dibandingkan dengan bulan lainnya. Sedikit terkait dengan perjalanan pribadi saya memang. Bisa kita hitung berapa hari besar nasional yang dirayakan, setidaknya berikut daftar hari besar nasional pada bulan Mei yang relevan diperingati tahun ini,
- 1 Mei sebagai hari buruh internasional, di mana serentak seluruh buruh di berbagai daerah merayakannya sebagai ‘hari suci’ untuk menyalurkan segala aspirasi mereka. Persoalan perburuhan yang disinyalir tak akan kunjung tuntas sampai kimat ini selalu memiliki ruang tersendiri di rubrik media massa setiap tahunnya.
- 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional, ini juga banyak menuai kontroversi atas apa yang terjadi pada dunia pendidikan indonesia, terlebih peringatannya yang dekat dengan pelaksanaan Ujian Nasional menjadikan hari pendidikan nasional seolah “Macan Ompong”, sekadar seremonial tanpa makna mengingat kontradiksi institusi pendidikan sebagai “lembaga pendidikan” atau “lembaga pengembangbiakan dan pembudidiyaan kecurangan”. Meski demikian, saya tetap optimistis untuk perubahan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.
- 8 Mei hari meninggalnya Mozes Gatotkaca pada peristiwa kerusuhan Gejayan Yogyakarta [diperingati oleh para aktifis reformasi]. Hari gelap di atas awan Gejayan di mana ribuan demonstran berdemonstrasi menuntut turunnya soeharto yang berakhir dengan tewasnya Mozes Gatotkaca di jalan Colombo yang kini berganti namanya menjadi jalan Mozes Gatotkaca.
- 12 Mei hari meninggalnya 4 Mahasiswa Trisakti Jakarta [juga diperingati oleh para aktifis reformasi dan HAM], kasus kematian 4 mahasiswa Trisakti hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan menjadi tuntutan dari para aktifis untuk segera diselesaikan. Dalam hati saya berkeyakinan kalau kasus ini bakal menguap atau sebaliknya membeku karena di-peti-es-kan.
- 20 Mei hari kebangkitan nasional, hari kebangkitan ini mendapat tempat tersendiri bagi kalangan akademisi dan pendidikan. Juga bagi kalangan yang suka mengait-ngaitkan keterpurukan Indonesia pada hari kebangkitan ini untuk dijadikan momentum tonggak bagi sebuah gerakan baru di Indonesia. Jadi, kalau Anda seorang aktifis dan butuh momentum untuk mengangkat gerakan anda, maka jadikan hari kebangkitan sebagai titik tolaknya. Biasanya ramai dan gemuruh pada awalnya, berikutnya akan lenyap ditelan angin seperti gerakan yang saya bangun dulu yang bertema “Hari Kebangkitan Nasional sebagai Awal Kebangkitan dari Kebangkrutan”
- 21 Mei hari lengsernya presiden Soeharto dari singgasana kekuasaan yang lama dipegangnya dan sepertinya enggan berpindah sampai gerakan mahasiswa menurunkannya. Hari di mana untuk pertama kalinya saya bersujud sukur tanpa rasa malu di depan Televisi.
Sebuah kabar menggembirakan yang membuat saya dan kawan-kawan pada waktu itu sontak menangis haru gembira penuh rasa syukur setelah gelombang demo dan kerusuhan terlalui dengan sukses penuh cita rasa tinggi.
May 13, 2009 | Posted by gempur 
Categories:
Tags:








Recent Comments