Untuk Sang Kenangan [5]

Semilir angin malam di lembah dingin semakin membekukanku dalam diam tak berkesudahan. Mengukir pesonamu di langit-langit khayalku yang mengkristal mengukuhkanmu di atas singgasana kenangan.

Aku merengkuhmu dalam hujan badai tak berkesudahan. Mengusap air matamu yang tumpah dari langit. Sampai kapan episode ini berakhir?!

Kehangatanku tak mungkin bertahan lama dalam hujan badai, suatu saat lebur dalam gigil yang menjadikan kita beku selamanya.

Jika harus demikian, maka mari dengan segenap keberanian tersisa, kita songsong kematian… Atau mari kita terjang badai dengan sisa kehangatan yang ada…

 -o0O(   )O0o-

Kini, semua sudah berlalu, akhirnya  memang harus diakhiri dengan menyongsong kebekuan dan kematian. Kisah kita telah beku dan mati sejak enam musim lalu. Berakhir dengan dramatis dan sangat indah di tengah pesonamu yang luar biasa merangkum sukma.

Engkau meninggalkan selaksa keindahan, pesona dan keagungan…

Aku menunggumu dalam hujan…


Disclaimer: Tulisan ini kelanjutan dari Untuk sang kenangan [bag.1], [bag.2], [bag.3] dan [bag.4]

Untuk Sang Kenangan [4]

Menyongsong Kemarau

Dinginnya kemarau di malam yang kering semakin menyiksaku dalam bayanganmu. Engkau masih dalam kebekuan, sebeku pertemuan terakhir di awal penghujan enam musim lalu.

Percintaan kita enam musim lalu seolah menjadi bias pelangi. Keputusanmu juga aku mengakhiri semua adalah kemarau terpanjang sepanjang musim dalam dua dasawarsa hidupku. Mungkin juga hidupmu.

Kau begitu indah dari semua kenangan yang tercipta. Kau memesona dalam duka dan tawa. Ah… Aku terlalu memujamu? Bias ilusi darimu yang tak pernah mengecewakanku? Sungguh, meraihmu dan mendampingimu membuatku menjadi laki-laki sejati. Aku dalam bayang-bayang pesona luar biasa hingga aku tak sadar bahwa engkau memang bukan untukku. Aku pungguk engkau bulan.

Kekasih, -ah, aku malu, merasa tak pantas!- jika saja kau masih mengijinkannya aku panggil kau begitu. Sejujurnya, aku sudah muak dengan kenangan-kenangan menjerat ini. Muak pada diriku sendiri yang selalu memujamu setiap ingatan itu kembali. Muak pada pecundang, pada wajah yang muncul setiap aku menatap cermin.

Kemarau ini menyengatku! Seperti halnya kemarau enam musim lalu, aku terseok dalam pusaran badai padang pasir. Kau adalah dahaga tak terpuaskan. Menyengat.

Kemarauuuuuuu… Aku songsong engkau sebagaimana enam musim lalu. Dan, selalu kuulang tiap musim, Aku Pecundang!

Kusongsong engkau dahagaku!


Disclaimer: Tulisan ini kelanjutan dari Untuk sang kenangan [bag.1], [bag.2] dan [bag.3]. Kebetulan tertulis pada saat menikmati tontonan menegangkan Spanyol-Jerman


Stop Kelaparan dan Gizi Buruk

format png format png format jpg

Kode gambar 1

<a href=”http://aghofur.com/stop-kelaparan-dan-gizi-buruk.html” title=”Anti kelaparan dan gizi buruk”><img src=”http://img72.imageshack.us/img72/5387/hungerbannerjt1.png/”></img></a>

Kode gambar 2

<a href=”http://aghofur.com/stop-kelaparan-dan-gizi-buruk.html” title=”Anti kelaparan dan gizi buruk”><img src=”http://img366.imageshack.us/img366/5872/hungerbannerhuge2pk9.png/”></img></a>

Kode gambar 3

<a href=”http://aghofur.com/stop-kelaparan-dan-gizi-buruk.html” title=”Anti kelaparan dan gizi buruk”><img src=”http://img360.imageshack.us/img360/2749/hungerbannerhuge1bz7.jpg/”></img></a>

–ooOoo–

Agaknya bangsa ini sudah mulai sangat keterlaluan dan kelewatan. Negara semakmur ini masih menyimpan kelaparan berujung kematian. Bermula dari meninggalnya seorang ibu yang tengah hamil tua dan disusul anaknya, menjadikan media massa ramai memberitakan kasus-kasus kelaparan dan gizi buruk di berbagai daerah.

Ironisnya, bapak presiden kita yang terhormat malah mencanangkan tahun ini sebagai tahun politik yang panas. Tahun depan mendidih yang mungkin juga meledak. Kegeraman ini memicu adrenalin untuk segera bertindak meski itu kecil. Peduli amat orang berkata NATO (No Action Talk Only), karena berdasarkan kyai saya, berbicara juga bagian dari bertindak.

–ooOoo–

Sore ini, kebetulan jendela YM aktif dan tiba-tiba muncul alert, pak Sawali online. Segera saja kusambar kesempatan ini untuk diskusi sejenak. Tak lama ide conference muncul dari pak sawali untuk mengajak mas goop dan mas khuclukz membicarakan topik ini. Tanpa panjang lebar, meminta mas goop untuk membuat banner, mas goop menyatakan diri tak ahli dalam bidang itu. Dia menawarkannya pada mas goen, syukurnya dia mau dan mampu. Gayung bersambut. “Tuhan meridhoi”, dalam hati saya berkata.

Tak begitu lama, mas STR nongkrong pula. Semakin intens diskusinya, terlebih mas STR memberi link ini dan mas goop memberi link ini. Berharap para rekan bloger mau ikut berbagi space memasang banner kampanye anti kelaparan dan gizi buruk. Lama menunggu mas goen mengerjakan banner akhirnya kelar juga bannernya. Terima kasih mas goen, semoga kampanye ini ada manfaatnya.

–ooOoo–

Kepada rekan-rekan, kawan-kawan, teman-teman bloger yang turut berpartisipasi dalam “Kampanye 2008: Tahun Anti Kelaparan dan Gizi Buruk” bisa melakukan satu atau lebih tindakan di bawah ini:

  1. bersedia dengan ikhlas memasang banner di sidebar blognya masing-masing
  2. bersedia membuat tulisan terkait tema di atas
  3. bersedia membuat pers release tentang tema di atas di blognya masing-masing
  4. bersedia membantu kampanye ini ke teman-teman dan kawan bloger lainnya

Selamat berkampanye dan selamat bertindak!

Peduli Setan!!!

Saya tak butuh demokrasi

Saya tak butuh monarki

Saya tak butuh otokrasi atau yang lainnya

Yang saya butuhkan,

bisa makan kenyang tak kelaparan. Bisa senggama tanpa masalah. Bisa sembahyang tanpa todongan dan senapan dikokang. Bisa bicara tanpa takut dibungkam. Bisa bangga berdiri di atas kaki sendiri.

Peduli setan dengan demokrasi, monarki, otokrasi, aristokrasi atau apapun bentuknya, kalo saya kelaparan, saya dimandulkan, saya diteror, saya diintimidasi, saya dikangkangi.

Percayalah, saya bukan tipe manusia sewenang-wenang yang mudah merampas hak orang lain demi hak saya…

Saya hanya ingin hidup wajar dalam damai…