The Election: Choose Revolution, Evolution or Acceleration

Logo Pemilu

Logo Pemilu

Pemilu sudah tinggal menghitung hari, musim kampanye segera akan berlangusng di mana hiruk pikuk jalanan akan terasa semakin kental setiap hari. Akan tetapi, sampai sekarang saya masih tidak tau berapa jumlah partai yang mengikuti pemilu dan berapa ratus caleg yang akan terpampang pada kertas suara nantinya, belum lagi bagaimana mekanisme pencoblosan.

Jujur saja saya tidak tahu, atau mungkin barangkali saya tidak mau tahu atau mungkin karena kebingungan saya akan demokrasi yang tengah berlangsung di negeri ini. Pertanyaan berikutnya, apa saja yang mesti saya lakukan untuk mengkalkulasi untung dan rugi demi hanya memilih satu partai, satu caleg dan mungkin satu presiden. Toh, tak berdampak apa pun pada kehidupan saya sehari-hari.

Dua pemilu sudah saya lalui setelah era reformasi, tetap saja bahkan mungkin lebih parah keadaannnya. Kehidupan rakyat yang masih jungkir balik diombang-ambingkan kebijakan yang tumpang tindih. Kelaparan masih sering menghinggapi perut banyak rakyat terutama yang berada di pinggiran dan pedalaman. Infrastruktur yang masih porak poranda. Kebijakan ekonomi yang selalu saja berpihak pada konglomerasi dan tidak menyentuh sektor riil.

(more…)

Mahasiswa Indonesia!!! Di Mana Kalian?


Disclaimer: postingan murni curhat dan tidak berlaku untuk mahasiswa yang tergerak menyuarakan suara rakyat dan terlibat aktif dalam pelbagai aktifitas sosial di luar aktifitas resminya sebagai penuntut ilmu. Tulisan ini juga tak berlaku untuk mereka mahasiswa demonstran yang beraksi herois tapi dibayar untuk kepentingan golongan tertentu dan berlaku anarkis.

Berkaca pada sejarah, di mana rakyat membutuhkan didengar, disuarakan hatinya, mahasiswa siap menyuarakannya dengan lantang. Indonesia tak lepas dari gejolak darah muda yang resah melihat sekelilingnya. Bukan resah karena putus cinta atau kasih bertepuk sebelah tangan, tapi resah karena rakyat kelaparan dan dipaksa lapar.Dulu, saya sangat yakin! Jangan pernah buat rakyat sengsara kalau tidak ingin berhadapan dengan kekuatan mahasiswa!!!reformasi 98

Kini, saya berharap, keyakinan itu tak luntur apalagi memudar sirna. Saya percaya mahasiswa masih resah. Tapi, pertanyaan saya, di mana mereka? Di mana suara lantang penuh heroisme dan ketulusan menyuarakan kebenaran dan bukan karena bayaran. Tak cukupkah pemandangan antre minyak tanah di berbagai pelosok negeri? Tak cukupkah kelaparan menggantung di awan indonesia? Tak cukupkah harga-harga melambung tinggi yang mencekik rakyat membangkitkan perlawanan?

Ah, saya terlalu berharap besar pada mahasiswa? Mereka juga manusia biasa.

Tapi, entahlah saya mulai menaruh curiga pada enggannya mahasiswa untuk bergerak. Kecurigaan yang sejak dulu saya cium dari aroma “otonomi kampus” yang menyingkirkan mahasiswa miskin tapi pintar untuk menjauh dari kampus kenamaan seperti UGM, UI, ITB, IPB dan UNAIR.

Logika saya sederhana, kalau biaya pendidikan menjadi tak terjangkau rakyat miskin, lantas siapa yang bisa masuk ke pendidikan tinggi ternama kalau bukan mereka rakyat berduit dan kaya? Lantas apa relevansinya? Jelas sekali, meski tak berdasar, mayoritas yang bisa kuliah di PTN adalah mereka yang perutnya kenyang dan jauh dari keseharian rakyat lapar. Kehidupan mahasiswa yang akademic oriented dan cenderung hedonis melupakan fungsi lain dari status yang bernama mahasiswa. Mahasiswa enggan bersentuhan dengan dunia aktifitas sosial masyarakatnya. Pengabdian mahasiswa pada masyarakat sudah bukan jamannya lagi, Tri Dharma Perguruan tinggi lebih hanya slogan kering makna.

Mahasiswa di tengah pungutan iuran yang mahal akan berpikir sejuta kali untuk terlibat aktif dalam aktifitas sosial di luar kegiatan akademik. Kalkulasi ekonomi biaya yang mereka keluarkan selama perkuliahan tak sepadan dengan ganjaran resiko Drop Out seandainya dia menjadi aktifis yang vokalis. Tampaknya, skenario NKK BKK di masa Daoed Joesoef dengan otonomi kampus di era pasca reformasi memiliki kesamaan, meski dengan cara yang berbeda.

Sebaiknya saya berhenti berharap pada mahasiswa, karena memang mereka terlalu terbebani dengan hutang ekonomi yang besar untuk mendapat “pendidikan yang lebih baik” dari PTN terkemuka negeri ini.

peristiwa malari peristiwa malari

Sumber foto: tempointeraktif.com

Hanya, sekadar mengingatkan, jika tumbangnya orde lama disamakan dengan tumbangnya orde baru, maka sepantasnya, tahun ini bisa disepadankan dengan tahun terjadinya peristiwa Malari. Sekadar momentum untuk mengingatkan para penguasa negeri ini untuk tak lagi melenceng dari reformasi. Untuk kembali ke jalan yang baik, untuk menegakkan kembali semangat memakmurkan rakyat. Bukan memakmurkan perut sendiri. Apalagi dipakai hajatan ramai-ramai.

Terakhir, saya tuliskan ini bukan untuk menyulut keresahan berujung kerusuhan. Saya hanya menanyakan di mana kawan-kawan mahasiswa? Sudah saatnya turun gunung dan meluruskan kembali cita-cita reformasi!

Salam Perjuangan Kawan!