The Election: Choose Revolution, Evolution or Acceleration

Logo Pemilu
Pemilu sudah tinggal menghitung hari, musim kampanye segera akan berlangusng di mana hiruk pikuk jalanan akan terasa semakin kental setiap hari. Akan tetapi, sampai sekarang saya masih tidak tau berapa jumlah partai yang mengikuti pemilu dan berapa ratus caleg yang akan terpampang pada kertas suara nantinya, belum lagi bagaimana mekanisme pencoblosan.
Jujur saja saya tidak tahu, atau mungkin barangkali saya tidak mau tahu atau mungkin karena kebingungan saya akan demokrasi yang tengah berlangsung di negeri ini. Pertanyaan berikutnya, apa saja yang mesti saya lakukan untuk mengkalkulasi untung dan rugi demi hanya memilih satu partai, satu caleg dan mungkin satu presiden. Toh, tak berdampak apa pun pada kehidupan saya sehari-hari.
Dua pemilu sudah saya lalui setelah era reformasi, tetap saja bahkan mungkin lebih parah keadaannnya. Kehidupan rakyat yang masih jungkir balik diombang-ambingkan kebijakan yang tumpang tindih. Kelaparan masih sering menghinggapi perut banyak rakyat terutama yang berada di pinggiran dan pedalaman. Infrastruktur yang masih porak poranda. Kebijakan ekonomi yang selalu saja berpihak pada konglomerasi dan tidak menyentuh sektor riil.
Di musim kampanye ini, partai saling mengklaim keberhasilan pembangunan selama orde lima tahun belakangan. Tapi, tak satupun yang berani mengklaim kegagalan sebagai bagian dari kesalahan yang mereka buat. Saya tak akan banyak menyalahkan orang lain. Saya lebih cenderung mengoreksi kesalahan saya sendiri apa saja yang telah saya lakukan lima tahun terakhir sebagai warga negara yang menjadi bagian dari keseluruhan bangsa yang bernama Indonesia.
Ketika saya mempertanyakan keadaan dan melemparkan kesalahan pada pihak tertentu, pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apa yang telah anda lakukan untuk perbaikan bangsa sesuai ideal Anda? Jika saya mendapat pertanyaan tersebut, tentu saya tergopoh-gopoh dan mencari seribu dalih dan berjuta alasan untuk berkelit.
Namun, setidaknya ada pembelaan sedikit dari saya, justeru karena saya yang tak memiliki kapabilitas dan kredibilitas besar untuk duduk di kursi pengambil kebijakan dan keputusan maka saya memutuskan untuk tidak berada di sana dan mengambil bagian kecil yang saya mampu tentunya. Karena pernyataan dengan penuh kesadaran ini pula, saya mengajukan pernyataan gugatan kepada Anda semua yang merasa kredibel dan kapabel untuk duduk di kursi pengambil kebijakan, Apa yang telah anda hasilkan untuk perbaikan bangsa ini.
Akan tetapi, setelah saya renungkan baik-baik, daripada berputar-putar tidak karuan, saya mending diam. Apatis. Menunggu. Menunggu dalam proses kreatif menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik tentunya dengan skala saya yang kecil dan mungkin tak layak diprehitungkan ini.
Saya teringat dengan teori Hassan Hanafi yang mengatakan bahwa ada tiga pilihan langkah agar tercipta sistem yang bagus.
Yang pertama, Revolusi, pilihan pertama ini terlalu riskan dengan biaya tinggi bahkan berdarah-darah. Menurut pengamatan saya, sepertinya tidak mungkin karena terlalu pahit untuk dilalui. Bisa jadi dalam bentuk perang saudara, tapi naudzubillah, jangan sampai terjadi. Mending kalau revolusi ini ditempuh dengan cattatan ada musuh bersama dari pihak luar, seperti kata Cak Nun. Cari musuh dan perang sekalian obral surga. Pasti akan terjadi perubahan.
Yang kedua, Evolusi, pilihan kedua ini terlalu lama dan butuh waktu juga butuh kesabaran tinggi. Bisa jadi butuh beberapa generasi sampai angan-angan negeri harapan dan impian ini menjadi kenyataan. Butuh kerja dan istiqomah serta kebersamaan dari seluruh elemen bangsa untuk mencapainya.
Yang ketiga, Akselerasi, yaitu percepatan pembusukan sistem. Butuh upaya dan dorongan dari beberapa elemen bangsa untuk mempercepat pembusukan sistem. Boleh jadi dalam bentuk pembiaran, permissif. Untuk hal ini, Indonesia memiliki modal besar dalam bentuk toleransi. Korupsi tidak usah diberantas dengan nama toleransi, toh mereka bapak bangsa yang berjasa besar, pornografi biarkan saja demi toleransi kebebasan berkspresi dan demikian seterusnya. Sampai pada batas waktu tertentu, seluruh bangsa ini akan jenuh dan capek dengan semua itu. ketika semua jenuh dan capek [baca: membusuk] akan hadir kerinduan pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dan dengan sendirinya tanpa harus direkayasa atau diatur oleh undang-undang, yang namanya koruptor langsung dihukum, pornografi tanpa dilarang akan malu sendiri para pelakunya.
Saya yakin kiamat masih jauh. peradaban sekarang baru pada pertengahan jalan. Segera akan muncul bibit semai baru peradaban yang lebih baik dari sekarang. Bibit-bibit kebudayaan yang jauh dari kadar ‘narsis‘ berlebihan [silakan baca sejarah narsisme dan bayangkan bila itu menghinggapi kebanyakan pemimpin kita]. Bibit peradaban yang jauh dari pamer dan atau mengumbar syahwat berlebihan. Saya merindukan kondisi ’surgawi’ yang tergambar dalam cerita ‘Musyawarah Burung‘ karya ‘Fariduddin Aththar‘ di bagian-bagian awal. Di mana semua makhluk berlomba saling memberikan yang terbaik pada sesama demi sebuah martabat dan derajat mejadi ‘yang dicintai-Nya’.
Semua berusaha memberi dan menolong sampai mecari-cari orang yang layak diberi dan ditolong. Dari pemimpin hingga rakyatnya punya kecenderungan yang sama. Memberi dan menolong. Tidak ada kamus memperkaya diri sendiri dengan harta dan dunia kecuali cinta dan kasih-Nya. Andai ada satu saja bangsa di dunia saat ini yang seperti demikian, saya dengan ikhlas menjadi bagian di dalamnya. Belajar menjadi yang dicintai-Nya dikasihi-Nya.
Akhirnya, saya hanya bisa berkata, jayalah negeriku, makmurlah bangsaku.
Utopiskah saya?
March 13, 2009 | Posted by gempur
Categories:






saia rasa gak utopis pak, bagi saia itu normal karena hampir sama dengan pemikiran saia
Syukurlah, artinya masih ada harapan itu semua terwujud.Amin
btw utopis apaan seh?? kacrut bener2 dudul kalu masalah politik .. bukannya gak tau.. tapi emang gak mau tau..
yg jelas aku nyoblos sapa aja yg mau ngangkat ibunda sri mulyani jadi menkeu lagi..
jayalah ekonomi indonesia..
Dibanyak tempat memang revolusi itu selalu membutuhakan biaya yang besar, biaya sosial maupun biaya energi untuk meletupkannya.
Saya pikir inilah sebenarnya jalan yang terbaik. Bukankah jalan itu pula yang ditempuh Tuhan saat umat nabi Nuh gagal dikonversi menjadi a good man ?
Bukankah teknik sapu bersih juga diterapkan pada umat Luth ?
Tergantung dari sudut pandang yang sebelah mana, tapi bila arah bahtera negeri ini sudah dianggap on the track, mungkin akslerasi bisa jadi pilihan sebagaimana Tuhan juga “belakangan ini” tak pernah lagi “mengklik” pop up yang muncul : do you want to formatting this drive ?
waduh, pak mudz069 termasuk golongan yang eekstrim jugak nih, jadi takut bikin tulisan beginian. hehehehe
utoopis??? goggling aja deh… sampean anak buahe bu sri mulyani toh??! hehehehe
klo memang kita memilih jalan akselerasi, sampai kapan kita akan menunggu pak? sampai kita mati? sampai anak cucu kita menderita?
bapak ikut menyukseskan pemilu 2009 atau mungkin bapak salah satu tim suksess
partai P3I( PARTAI PERKUMPULAN PEMULUNG INDONESIA ) heheheheheh
sorry pak ya iam just kidding .
Semoga lancar selalu Pemilunya
Amin ya robbal alamin
wah berarti milih revolusi nih?!!!! hehehehehe
opininya mantap… saia sendiri tak pernah berfikir sampai segitu nya… nice post